Apa yang Kamu Anggap Penting, Itulah Arah Hidupmu

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 0
  • Dibaca 2 Kali
-

قال الشيخ عبد القادر الجيلاني، في فتح الرباني. لا يكن همك ما تأكل وما تشرب وما تلبس، وما تنكح وما تسكن وما تجمع. كل هذا هم النفس، والطبع فأين هم القلب والسر. وهو طلب الحق عز وجل. همك ما أهمك، فليكن همك ربك، وما عنده.

Berkata Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitab Futuh al-Rabbani:

“Janganlah yang menjadi perhatian utamamu adalah apa yang kamu makan, apa yang kamu minum, apa yang kamu pakai, apa yang kamu nikahi, di mana kamu tinggal, dan apa yang kamu kumpulkan. Semua itu adalah keinginan nafsu dan tabiat semata. Lalu di mana perhatian hati dan rahasia batinmu? Yaitu dalam mencari Allah ‘Azza wa Jalla.

Perhatianmu adalah apa yang paling kamu anggap penting. Maka jadikanlah perhatianmu adalah Tuhanmu dan apa yang ada di sisi-Nya.”

Ada satu pertanyaan yang sering muncul dalam kehidupan: mengapa terasa begitu berat menunaikan shalat tepat waktu, terlebih lagi bangun untuk shalat Subuh? Mengapa kebaikan terasa sulit, sementara urusan dunia begitu mudah dijalani?

Renungkan sebuah perbandingan sederhana. Seseorang yang memiliki jadwal penerbangan dengan boarding pukul 05.00 pagi akan mempersiapkan diri dengan sangat serius. Ia bangun lebih awal, berangkat lebih cepat, bahkan sudah berada di bandara jauh sebelum waktu yang ditentukan. Tidak ada rasa berat, tidak ada keluhan. Semua dilakukan dengan penuh kesungguhan. Mengapa? Karena ia menganggap perjalanan itu penting, dan ia takut mengalami kerugian jika tertinggal.

Namun ketika panggilan shalat Subuh datang—yang nilainya jauh lebih besar daripada perjalanan dunia—sering kali justru diabaikan. Rasa berat muncul, kantuk menjadi alasan, dan akhirnya kesempatan itu terlewat.

Di sinilah letak persoalannya. Seperti yang dinasihatkan oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, kebanyakan manusia terlalu sibuk dengan urusan lahiriah: makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan harta. Semua itu adalah kebutuhan jasmani dan dorongan nafsu. Namun, di mana perhatian hati dan rahasia batin? Seharusnya ia tertuju pada Allah, pada upaya mendekatkan diri kepada-Nya.

Kalimat hikmah beliau sangat dalam: “همك ما أهمك” — perhatianmu adalah apa yang paling kamu anggap penting. Jika dunia yang dianggap utama, maka seluruh tenaga dan pikiran akan tercurah untuknya. Sebaliknya, jika Allah yang menjadi pusat kehidupan, maka ibadah akan terasa ringan, bahkan dirindukan.

Kesulitan dalam beribadah bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena hati belum sepenuhnya menjadikan Allah sebagai prioritas. Maka yang perlu diperbaiki bukan hanya amal lahiriah, tetapi juga orientasi hati. Ketika hati telah lurus, menjadikan Allah sebagai tujuan utama, maka kebaikan akan terasa mudah, dan ibadah menjadi kenikmatan.

Karena pada akhirnya, siapa yang menganggap Allah itu penting dalam hidupnya, ia tidak akan merasa berat untuk mendekat kepada-Nya.