Ujub dan Kesombongan: Penyakit Hati yang Membinasakan
Pengajian di masjid karang langko Babussalam Gerung
Ujub dan Kesombongan: Penyakit Hati yang Membinasakan
Pendahuluan
Dalam kehidupan, manusia sering diuji bukan hanya dengan harta, kedudukan, atau ujian lahiriah, tetapi juga dengan penyakit hati yang tersembunyi dan berbahaya. Di antara penyakit yang paling halus namun mematikan adalah ujub (kekaguman terhadap diri sendiri) dan kesombongan (kibr). Dua sifat ini dapat merampas keutamaan, menghapus amal, dan menjerumuskan manusia ke dalam kehinaan, baik di dunia maupun di akhirat. Allah ﷻ berfirman:
"وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا"
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)
Ayat ini menggambarkan betapa tidak pantas manusia bersikap sombong, karena pada hakikatnya ia hanyalah makhluk lemah, tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali dari Allah.
Bahaya Kesombongan (الكبر)
Kesombongan adalah merasa lebih tinggi dari orang lain dan menolak kebenaran ketika datang dari pihak yang dianggap lebih rendah. Rasulullah ﷺ menjelaskan dengan sangat tegas:
"لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Seorang lelaki berkata: “Sesungguhnya seseorang senang jika pakaiannya bagus dan sandalnya indah.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
"إِنَّ الله جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ."
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji zarrah dari kesombongan.” (HR. Muslim, no. 91)
Kesombongan menutup pintu ilmu dan hidayah. Orang yang sombong tidak mau mendengar nasihat, tidak mau menerima kebenaran, dan menolak bersikap sopan kepada sesama. Akibatnya, Allah hinakan dia di dunia dan akhirat.
Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata:
“Orang yang sombong tidak akan pernah mendapatkan kelezatan iman, karena hatinya sibuk mengagungkan dirinya sendiri.”
Bahaya Ujub (الإعجاب بالنفس)
Ujub berarti merasa bangga terhadap diri sendiri, baik karena ilmu, amal, atau kedudukan. Ia lebih halus dari kesombongan, karena muncul dalam hati tanpa disadari. Orang yang ujub menganggap dirinya hebat, amalnya banyak, dan tidak butuh rahmat Allah.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan:
“Ujub adalah melihat diri dengan pandangan kagum dan lupa bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Ia mengira amalnya akan menyelamatkannya, padahal amal itu tidak bernilai tanpa rahmat Allah.”
Ujub menghapus keikhlasan dan menjadikan amal tidak diterima. Karena itu, Nabi ﷺ berdoa:
"اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِي."
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku dan dari keburukan amal perbuatanku.” (HR. Muslim)
Ilmu Hilang Karena Kesombongan dan Malu yang Salah Tempat
Para ulama juga mengingatkan bahwa kesombongan adalah musuh ilmu, sebagaimana banjir memusuhi tempat yang tinggi. Mereka berkata:
“العِلمُ بين التَّكَبُّرِ والحياء، فإذا رفع أحدُهما رُفِع العلم.”
“Ilmu itu berada di antara kesombongan dan rasa malu; jika salah satunya diangkat, maka hilanglah ilmu.”
Maksudnya, orang yang sombong tidak mau belajar dari yang dianggap lebih rendah, sedangkan orang yang malu bertanya akan tetap bodoh. Maka ilmu hanya menetap pada hati yang rendah dan tunduk kepada kebenaran.
“العِلمُ عدوٌّ للمتكبّر، كما أنّ السَّيلَ عدوٌّ للبناء العالي.”
“Ilmu adalah musuh bagi orang yang sombong, sebagaimana banjir adalah musuh bagi bangunan yang menjulang tinggi.”
Tiga Hal yang Membinasakan
Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa ada tiga hal yang membinasakan manusia, yaitu sifat-sifat hati yang jika dibiarkan akan menghapus amal dan menjerumuskan pelakunya dalam kehancuran.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ."
“Tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. Al-Baihaqi )
1️⃣ Kikir yang Ditaati (شُحٌّ مُطَاعٌ)
Orang yang dikuasai oleh sifat pelit enggan memberi dan lebih mencintai harta daripada ketaatan. Allah ﷻ berfirman:
"وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ"
“Barang siapa dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
2️⃣ Hawa Nafsu yang Diikuti (هَوًى مُتَّبَعٌ)
Hawa nafsu yang tidak dikendalikan oleh syariat akan membawa kepada kesesatan. Allah berfirman:
"أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ..."
“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
3️⃣ Kekaguman terhadap Diri Sendiri (إِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ)
Ujub membuat seseorang merasa cukup dan tidak lagi meminta pertolongan Allah. Allah menegur kaum muslimin pada perang Hunain:
"وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا..."
“Ingatlah pada perang Hunain, ketika kalian merasa bangga dengan jumlah kalian yang banyak, maka hal itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian…” (QS. At-Taubah: 25)
Renungan dan Hikmah
Ujub dan kesombongan adalah akar dari seluruh penyakit hati. Keduanya merampas keberkahan, menghapus keikhlasan, dan menghalangi datangnya ilmu serta hidayah. Orang yang sombong akan dijauhkan dari kebenaran, sementara orang yang ujub akan kehilangan rahmat Allah karena merasa cukup dengan amalnya.
Allah ﷻ berfirman:
"سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ"
“Akan Aku palingkan dari ayat-ayat-Ku orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar.” (QS. Al-A‘raf: 146)
Doa Agar Terhindar dari Kesombongan dan Ujub
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شُحٍّ مُطَاعٍ، وَهَوًى مُتَّبَعٍ، وَإِعْجَابٍ بِالنَّفْسِ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَعِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَعَمَلٍ لَا يُرْفَعُ.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, kekaguman terhadap diri sendiri, hati yang tidak khusyuk, ilmu yang tidak bermanfaat, dan amal yang tidak diterima.”
Penutup
Kemuliaan sejati bukanlah karena harta, jabatan, atau kedudukan, melainkan karena ketundukan hati kepada Allah. Orang yang sombong akan direndahkan, sedangkan orang yang tawadhu’ akan ditinggikan.
Rasulullah ﷺ bersabda : "مَنْ تَوَاضَعَ لِله رَفَعَهُ الله."
“Barang siapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)
Kitab Mukasyafatul Qulub Hal. 226
