Berteman dengan Orang Saleh, Mendidik Jiwa Menjadi Kuat
Kajian di masjid pesanggrahan banyu urip
Dalam Al-Fath ar-Rabbani, Syekh Abdul Qadir al-Jailani رحمه الله memberikan nasihat tentang besarnya pengaruh pergaulan terhadap keadaan hati dan perjalanan seseorang menuju Allah. Beliau berkata:
يَا غُلَامُ، تَصْحَبُ الْجُهَّالَ فَيَتَعَدَّى إِلَيْكَ مِنْ جَهْلِهِمْ. صُحْبَةُ الْأَحْمَقِ صُحْبَةُ غَبْنٍ. اصْحَبِ الْمُؤْمِنِينَ الْمُوقِنِينَ الْعَالِمِينَ الْعَامِلِينَ بِعِلْمِهِمْ. مَا أَحْسَنَ أَحْوَالَ الْمُؤْمِنِينَ فِي جَمِيعِ تَصَرُّفَاتِهِمْ، مَا أَقْوَاهُمْ عَلَى مُجَاهَدَاتِهِمْ وَقَهْرِهِمْ لِنُفُوسِهِمْ وَأَهْوِيَتِهِمْ.
Artinya:
“Wahai anak muda, engkau bergaul dengan orang-orang bodoh, lalu kebodohan mereka menular kepadamu. Bersahabat dengan orang yang bodoh adalah persahabatan yang membawa kerugian. Bersahabatlah dengan orang-orang mukmin yang memiliki keyakinan, orang-orang berilmu yang mengamalkan ilmunya. Betapa baik keadaan orang-orang mukmin dalam seluruh tindakannya. Betapa kuat mereka dalam bermujahadah, menundukkan nafsu dan hawa keinginannya.”
Pergaulan adalah pendidikan hati
Pesan pertama dari nasihat ini adalah bahwa sahabat tidak hanya menemani tubuh, tetapi ikut membentuk hati dan cara berpikir. Kebiasaan, ucapan, keberanian melakukan kebaikan, bahkan kelalaian seseorang dapat berpindah melalui pergaulan. Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang berada di atas agama sahabat dekatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sahabat.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Yang dimaksud الْجُهَّال (orang-orang jahil) bukan semata-mata orang yang tidak bersekolah. Dalam konteks pendidikan ruhani, kebodohan yang paling berbahaya adalah ketika seseorang tidak mengenal batas-batas Allah, mengikuti hawa nafsu, atau mengetahui kebenaran tetapi tidak menjadikannya pedoman hidup.
Carilah empat sifat dalam lingkungan pergaulan
Syekh Abdul Qadir mengarahkan kita kepada orang-orang yang memiliki empat sifat: مؤمنين (beriman), موقنين (memiliki keyakinan yang kokoh), عالمين (berilmu), dan عاملين بعلمهم (mengamalkan ilmunya).
Urutannya sangat indah. Iman menjadi dasar, yakin menguatkan hati, ilmu menunjukkan jalan, dan amal membuktikan kebenaran ilmu. Sebab ilmu yang tidak diamalkan belum sempurna manfaatnya. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)
Kekuatan orang beriman terletak pada mujahadah
Bagian terakhir nasihat ini menunjukkan bahwa kematangan ruhani bukan sekadar banyaknya pengetahuan atau pembicaraan tentang agama. Ukurannya tampak pada kemampuan seseorang melakukan مُجَاهَدَةُ النَّفْسِ, yaitu bersungguh-sungguh mendidik dan melawan kecenderungan buruk dalam dirinya.
Kalimat وَقَهْرِهِمْ لِنُفُوسِهِمْ وَأَهْوِيَتِهِمْ berarti mereka mampu menundukkan nafsu dan hawa keinginan. Bukan berarti menghilangkan seluruh keinginan manusia, tetapi menempatkan keinginan di bawah tuntunan Allah. Ketika nafsu mengajak marah, ia belajar menahan diri; ketika ingin dipuji, ia memperbaiki niat; ketika malas beribadah, ia memaksa dirinya istiqamah; dan ketika kepentingan pribadi bertentangan dengan kebenaran, ia mendahulukan kebenaran.
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjuang) di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Kesimpulan
Nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengajarkan satu perjalanan yang saling berhubungan: pilihlah lingkungan yang baik, kuatkan iman dan keyakinan, tuntutlah ilmu, amalkan ilmu, kemudian didiklah jiwa dengan mujahadah. Sahabat yang saleh bukan hanya orang yang membuat kita nyaman bersamanya, tetapi orang yang kehadirannya membantu kita semakin mengenal Allah dan berani melawan kelemahan diri.
Kalam hikmah:
“Pergaulan membentuk hati; ilmu menunjukkan jalan; amal menghidupkan ilmu; dan mujahadah menundukkan nafsu agar hati tetap berjalan menuju Allah.”
