“Pohon Mangga Tua: Kenangan yang Tak Pernah Tumbang”

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 8
  • Dibaca 883 Kali
Pohon madu yang rasanya manis seperti senyumnya si penulis

Di sudut asrama putri Darussalam Bermi, berdiri sebuah pohon mangga tua—diam, kokoh, dan penuh cerita. Usianya bahkan lebih tua dari pondok itu sendiri, seolah ia adalah saksi pertama dari setiap langkah yang pernah tumbuh di sana.
Bagi para santriwati, pohon itu bukan sekadar pohon. Ia adalah tempat berteduh saat matahari terlalu terik, tempat menjemur pakaian yang berjejer seperti bendera kecil penuh warna, dan tempat paling nyaman untuk membuka kitab, menghafal pelajaran, atau sekadar menenangkan hati yang rindu rumah.
Di bawah rindangnya, ada tawa yang pecah tanpa alasan, ada air mata yang jatuh diam-diam, ada doa-doa yang dipanjatkan dalam sunyi. Batangnya yang besar dan cabangnya yang mudah dipanjat menjadi saksi keberanian masa muda—ketika beberapa santriwati dengan lincah memetik buahnya, bahkan membawa sambal, menikmati mangga dengan rasa yang tak pernah tergantikan oleh apa pun di luar sana.
Pohon itu mengajarkan kebersamaan tanpa banyak kata. Ia memberi tanpa meminta, menaungi tanpa memilih. Setiap daun yang gugur seperti menyimpan cerita, setiap buah yang jatuh seperti membawa kenangan.


Kini, pohon itu telah tiada. Ia ditebang demi kebutuhan—demi ruang yang lebih luas, demi langkah maju pondok yang terus berkembang. Tapi anehnya, meski batangnya telah hilang, akarnya seakan masih tertanam di hati setiap santriwati yang pernah bersamanya.
Karena sejatinya, yang hilang hanyalah wujudnya.
Kenangan itu tetap hidup—dalam cerita yang terus diceritakan, dalam rindu yang diam-diam kembali, dan dalam hati yang selalu mengenang:
bahwa di sana, pernah ada pohon mangga
yang bukan hanya tumbuh di tanah,
tetapi juga tumbuh dalam jiwa.