Dakwah yang Ikhlas: Mengajak kepada Allah, Bukan kepada Diri Sendiri
Kajian di masjid pancor mas lembar
Syekh Abdul Qadir al-Jailani memberikan pelajaran yang sangat mendasar tentang hakikat dakwah dan keikhlasan seorang da‘i. Dakwah bukanlah jalan untuk membesarkan nama pribadi, mengumpulkan pengikut, memperoleh pujian, atau membangun pengaruh. Dakwah yang benar adalah mengajak manusia menuju pintu Allah, menaati perintah-Nya, dan semakin dekat kepada-Nya. Beliau memberi nasehat dalam kitab Faturrobbani
يَا قَوْمُ) أَجِيبُوا فَإِنِّي دَاعِي الله عَزَّ وَجَلَّ
أَدْعُوكُمْ إِلَى بَابِهِ وَطَاعَتِهِ، لَا أَدْعُوكُمْ إِلَى نَفْسِي
الْمُنَافِقُ لَيْسَ يَدْعُو الْخَلْقَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، هُوَ دَاعٍ إِلَى نَفْسِهِ
Artinya : “Wahai kaumku, penuhilah seruanku, karena sesungguhnya aku adalah orang yang menyeru kalian kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Aku mengajak kalian menuju pintu-Nya dan untuk menaati-Nya. Aku tidak mengajak kalian kepada diriku sendiri.
Orang munafik tidaklah mengajak manusia kepada Allah ‘Azza wa Jalla; sesungguhnya ia adalah orang yang mengajak manusia kepada dirinya sendiri.”
Hakikat Seorang Da‘i
Seorang da‘i pada hakikatnya hanyalah penunjuk jalan, bukan tujuan perjalanan. Ia menyampaikan ilmu agar manusia mengenal Allah, memahami syariat-Nya, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan ketaatan. Allah berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim.” (QS. Fussilat: 33)
Ayat ini menggunakan ungkapan دَعَا إِلَى الله—“mengajak kepada Allah”. Inilah arah dakwah: Allah menjadi tujuan, sedangkan da‘i hanyalah perantara yang menunjukkan jalan.
Mengajak kepada Pintu Allah dan Ketaatan
Mengajak manusia menuju Allah berarti mengarahkan mereka kepada iman, ibadah, ilmu, taubat, akhlak yang baik, dan ketaatan. Karena itu keberhasilan dakwah tidak semata-mata diukur dari banyaknya orang yang mengikuti seorang da‘i.
Bisa jadi seseorang mempunyai sedikit jamaah, tetapi mereka semakin taat kepada Allah. Sebaliknya, seseorang dapat mempunyai banyak pengikut, tetapi apabila yang tumbuh hanyalah fanatisme kepada dirinya, tujuan dakwah perlu dievaluasi. Allah berfirman:
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
“Katakanlah: Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru kepada Allah berdasarkan ilmu yang nyata.” (QS. Yusuf: 108)
Dakwah membutuhkan بَصِيرَة—ilmu, pemahaman, dan kejernihan pandangan—serta keikhlasan tujuan.
Bahaya Mengajak kepada Diri Sendiri
Nasihat Syekh Abdul Qadir sangat tajam ketika membedakan orang ikhlas dengan orang yang memiliki penyakit nifak dalam dakwah. Masalahnya bukan hanya apa yang disampaikan, tetapi juga kepada siapa hati manusia diarahkan.
Seseorang dapat berbicara tentang agama, tetapi diam-diam menginginkan agar dirinya dipuji, dibesarkan, selalu disebut, dan dijadikan pusat perhatian. Ia merasa senang ketika jamaah bergantung kepadanya, tetapi merasa tidak senang ketika mereka belajar atau memperoleh manfaat dari orang lain.
Di sinilah dakwah dapat bergeser dari mengajak kepada Allah menjadi mengajak kepada diri sendiri. Allah mengingatkan:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Seorang da‘i harus terus melakukan muhasabah: Apakah saya ingin manusia semakin mengenal Allah, atau semakin mengenal saya? Apakah saya bahagia ketika kebaikan berkembang meskipun bukan melalui tangan saya?
Tanda Keikhlasan dalam Dakwah
Salah satu tanda keikhlasan adalah seseorang lebih mencintai tercapainya kebaikan daripada tampilnya dirinya. Jika masyarakat menjadi lebih baik melalui orang lain, ia tetap bersyukur. Jika orang yang pernah belajar kepadanya kemudian memperoleh ilmu yang lebih luas dari guru lain, ia tidak merasa kehilangan.
Sebab tujuan seorang da‘i bukan menjadikan manusia milik dirinya, tetapi menjadikan mereka hamba Allah yang taat. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Karena itu, semakin luas dakwah seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga niat. Popularitas, penghormatan, jabatan, banyaknya jamaah, dan pujian dapat menjadi ujian bagi hati.
Da‘i Adalah Penunjuk, Allah Pemberi Hidayah
Seorang da‘i juga harus menyadari bahwa dirinya tidak memiliki hidayah. Tugasnya menyampaikan, mendidik, mendoakan, dan memberi teladan. Adapun yang membuka hati manusia adalah Allah. Allah berfirman:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qasas: 56)
Kesadaran ini menjaga seorang da‘i dari kesombongan ketika dakwahnya berhasil dan dari keputusasaan ketika dakwahnya belum diterima.
