Empat Penyakit yang Dapat Menghilangkan Ruh Agama Renungan dari Nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Al-Fath ar-Rabbani

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 0
  • Dibaca 105 Kali
Majlis ke 1 dusun tegal

Ilmu merupakan salah satu anugerah terbesar yang Allah berikan kepada manusia. Dengan ilmu seseorang mengetahui jalan yang benar, memahami kewajibannya kepada Allah, serta mengetahui bagaimana seharusnya hidup bersama manusia.

Namun, memiliki ilmu saja belum cukup. Ilmu harus melahirkan amal. Sebaliknya, amal juga tidak boleh berjalan tanpa ilmu. Karena itu, hubungan antara ilmu, amal, belajar, dan mengajarkan harus senantiasa dijaga.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani رحمه الله dalam Al-Fath ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani, pada majelis kelima, memberikan peringatan:

                                              ذهاب دينكم بأربعة أشياء

الأول: أنكم لا تعملون بما تعلمون.

الثاني: أنكم تعملون بما لا تعلمون.

الثالث: أنكم لا تتعلمون ما لا تعلمون فتبقون جهالا.

الرابع: أنكم تمنعون الناس من تعلم ما لا يعلمون.

Artinya:

“Agama kalian akan hilang karena empat perkara: pertama, kalian tidak mengamalkan apa yang kalian ketahui. Kedua, kalian mengamalkan sesuatu yang tidak kalian ketahui. Ketiga, kalian tidak mempelajari apa yang belum kalian ketahui sehingga kalian tetap dalam kebodohan. Keempat, kalian menghalangi manusia untuk mempelajari apa yang belum mereka ketahui.”

Empat perkara ini patut menjadi bahan muhasabah. Sebab kerusakan agama tidak selalu dimulai dengan hilangnya ilmu. Terkadang ilmu masih banyak dibicarakan, majelis masih ramai, kitab masih dipelajari, tetapi ruh ilmu perlahan menghilang karena ilmu tidak lagi membentuk amal dan akhlak.

Pertama: Mengetahui, tetapi Tidak Mengamalkan

Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengatakan:

أنكم لا تعملون بما تعلمون

“Kalian tidak mengamalkan apa yang kalian ketahui.”

Penyakit pertama adalah adanya jarak antara pengetahuan dan perbuatan. Seseorang mengetahui kebaikan, tetapi tidak mengerjakannya. Mengetahui larangan, tetapi masih melanggarnya. Bahkan terkadang seseorang sangat pandai menasihati orang lain, tetapi nasihat tersebut belum menyentuh dirinya sendiri.

Allah mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3)

Karena itu, ukuran keberhasilan menuntut ilmu bukan sekadar berapa banyak kitab yang selesai dibaca, berapa banyak pengajian yang diikuti, atau seberapa banyak persoalan agama yang mampu dijelaskan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Sudah berapa banyak ilmu yang mengubah diri kita?

Kita mengetahui keutamaan berjamaah, apakah kaki kita semakin ringan menuju masjid? Kita mengetahui bahaya ghibah, apakah lisan kita semakin terjaga? Kita mengetahui pentingnya ikhlas, apakah hati semakin sedikit mengharapkan pujian manusia?

Ilmu yang benar semestinya meninggalkan bekas pada pemiliknya.

Semakin bertambah ilmu, seharusnya semakin bertambah pula amal dan kerendahan hati.

Kedua: Beramal Tanpa Mengetahui Ilmunya

Syekh Abdul Qadir melanjutkan:

أنكم تعملون بما لا تعلمون

“Kalian mengamalkan sesuatu yang tidak kalian ketahui.”

Jika penyakit pertama adalah ilmu tanpa amal, penyakit kedua adalah amal tanpa ilmu.

Niat baik saja belum cukup. Semangat beragama juga harus dibimbing oleh pengetahuan yang benar. Sebab seseorang dapat bersungguh-sungguh melakukan sesuatu, tetapi apabila jalannya keliru, kesungguhannya tidak otomatis menjadikan perbuatannya benar.

Allah berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Allah juga berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra': 36)

Di sinilah pentingnya belajar sebelum bertindak. Hendak shalat, pelajari ilmunya. Hendak berdagang, ketahui halal dan haramnya. Hendak menikah, pelajari hak dan kewajiban dalam keluarga. Bahkan ketika hendak menyampaikan agama kepada orang lain, seseorang harus mengetahui terlebih dahulu apa yang disampaikannya.

Jangan sampai seseorang begitu mudah mengatakan:

“Ini halal, ini haram, ini sunnah, ini bid'ah,”

sementara dasar ilmunya belum dipahami dengan baik.

Semangat dalam beragama adalah sesuatu yang baik, tetapi semangat membutuhkan ilmu sebagai penunjuk jalan.

Ketiga: Tidak Tahu, tetapi Tidak Mau Belajar

Syekh Abdul Qadir berkata:

أنكم لا تتعلمون ما لا تعلمون فتبقون جهالا

“Kalian tidak mempelajari apa yang belum kalian ketahui sehingga kalian tetap dalam kebodohan.”

Tidak mengetahui bukanlah aib. Semua manusia pada mulanya tidak mengetahui.

Allah berfirman:

وَالله أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا

“Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun.” (QS. An-Nahl: 78)

Yang menjadi masalah bukan sekadar tidak tahu, melainkan tidak tahu dan tidak mau belajar.

Mengatakan “saya belum tahu” bukanlah kehinaan. Bahkan dalam perkara agama, keberanian mengatakan lā adrī—“saya tidak tahu”—merupakan bagian dari amanah ilmu.

Yang berbahaya adalah ketika seseorang tidak mengetahui, tidak mau bertanya, tetapi tetap merasa dirinya mengetahui. Karena itu Allah membuka jalan yang sederhana:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ

“Bertanyalah kepada ahlinya.”

Selama seseorang masih mau belajar, kebodohannya mempunyai jalan keluar. Tetapi apabila seseorang merasa cukup dengan pengetahuannya dan berhenti belajar, saat itulah pintu perkembangan dirinya mulai tertutup.

Orang berilmu bukanlah orang yang merasa sudah mengetahui semuanya, tetapi orang yang terus menyadari betapa banyak yang belum diketahuinya.

Keempat: Menghalangi Orang Lain untuk Belajar

Nasihat terakhir adalah:

أنكم تمنعون الناس من تعلم ما لا يعلمون

“Kalian menghalangi manusia untuk mempelajari apa yang belum mereka ketahui.”

Jika tiga penyakit sebelumnya banyak berkaitan dengan diri sendiri, penyakit keempat telah menyentuh kehidupan orang lain. Seseorang tidak hanya enggan belajar, tetapi juga menghalangi orang lain mendapatkan ilmu.

Padahal ilmu yang bermanfaat seharusnya dibuka seluas-luasnya. Orang tua membuka jalan pendidikan bagi anaknya. Guru membimbing muridnya. Ulama membimbing umatnya. Orang yang memiliki kemampuan membantu terselenggaranya pendidikan dan majelis ilmu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari)

Maka salah satu amal besar adalah menjadi jalan bagi orang lain untuk memperoleh ilmu.

Tidak semua orang harus menjadi guru. Tetapi setiap orang dapat mengambil bagian dalam perjuangan ilmu: ada yang mengajar, menyediakan tempat, membantu biaya pendidikan, mendirikan lembaga, menyediakan kitab, mengajak orang menghadiri majelis, atau sekadar menunjukkan seseorang kepada guru yang tepat.

Empat Penyakit dan Empat Jalan Perbaikannya

Dari nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani tersebut, kita dapat mengambil empat jalan perbaikan:

Jika sudah tahu, amalkan.

Jika belum tahu, belajarlah.

Jika hendak beramal, ketahui ilmunya.

Jika memiliki ilmu, bukakan jalan agar orang lain juga dapat belajar.

Dengan demikian, perjalanan ilmu tidak berhenti pada tahu, tetapi bergerak:

Belajar → Mengetahui → Mengamalkan → Mengajarkan.

Setelah mengajarkan, kita kembali belajar. Sebab lautan ilmu tidak pernah habis.

Allah berfirman:

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“Dan di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf: 76)

Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Setinggi apa pun ilmu seseorang, masih terdapat perkara yang belum diketahuinya.

Ilmu Seharusnya Memperbaiki Hati

Dalam jalan tasawuf, ilmu tidak cukup berhenti pada pikiran. Ilmu harus turun ke dalam hati, kemudian terlihat dalam perilaku.

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى الله مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”

(QS. Fathir: 28)

Maka salah satu buah ilmu adalah khasyyah, rasa takut dan pengagungan kepada Allah.

Apabila ilmu bertambah tetapi kesombongan juga bertambah, kita perlu bermuhasabah. Apabila pengetahuan agama bertambah tetapi semakin mudah merendahkan orang lain, kita perlu memeriksa kembali hati kita.

Ilmu yang membawa seseorang semakin dekat kepada Allah semestinya membuatnya lebih tawadhu, lebih berhati-hati berbicara, lebih baik akhlaknya, lebih banyak amalnya, dan lebih besar manfaatnya kepada sesama.

Karena tujuan ilmu bukan supaya manusia berkata, “Dia orang alim,” tetapi agar Allah melihat kita sebagai hamba yang semakin taat kepada-Nya.

Penutup: Jangan Berhenti pada Mengetahui

Nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani ini sangat singkat, tetapi kandungannya sangat luas. Ia mengajarkan keseimbangan antara ilmu dan amal, antara belajar dan mengajar, serta antara memperbaiki diri dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Jangan sampai kita mempunyai ilmu yang tidak pernah menjadi amal. Jangan pula beramal tanpa ilmu. Jangan membiarkan diri dalam ketidaktahuan karena malas belajar. Dan jangan menjadi penghalang bagi orang lain untuk mendapatkan ilmu.

Ilmu adalah cahaya. Amal adalah bukti dari cahaya itu. Mengajarkannya adalah jalan agar cahaya tersebut terus menyebar.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Berapa banyak yang sudah saya ketahui?”

Tetapi tanyakan juga kepada diri:

“Berapa banyak dari yang saya ketahui telah saya amalkan, dan berapa banyak orang yang memperoleh manfaat darinya?”

Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang mau belajar ketika belum mengetahui, mau mengamalkan ketika telah mengetahui, dan mau berbagi ketika telah diberikan ilmu.

اللهم علمنا ما ينفعنا، وانفعنا بما علمتنا، وزدنا علما نافعا وعملا صالحا وإخلاصا في القول والعمل

Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, berilah kami manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan, dan tambahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, serta keikhlasan dalam ucapan dan perbuatan.

Sumber utama: Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Al-Fath ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani, Majelis Kelima. Hal. 23