Ilmu Lisan Harus Menjadi Amal Hati dan Perbuatan
Kajian di masjid eik jambe kuripan
Dalam nasihat yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Al-Fath ar-Rabbani, terdapat pelajaran penting bahwa perjalanan menuju Allah tidak cukup dengan banyaknya pengetahuan dan ucapan. Ilmu harus turun ke hati, melahirkan keikhlasan, lalu tampak dalam ketaatan anggota badan.
يَا غُلَامُ، فِقْهُ اللِّسَانِ بِلَا عَمَلِ الْقَلْبِ لَا يَخْطُو بِكَ إِلَى الْحَقِّ خُطْوَةً.
السَّيْرُ سَيْرُ الْقَلْبِ، وَالْقُرْبُ قُرْبُ الْأَسْرَارِ.
الْعَمَلُ عَمَلُ الْمَعَانِي مَعَ حِفْظِ حُدُودِ الشَّرْعِ بِالْجَوَارِحِ، وَالتَّوَاضُعِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِعِبَادِهِ.
مَنْ جَعَلَ لِنَفْسِهِ وَزْنًا فَلَا وَزْنَ لَهُ.
مَنْ أَظْهَرَ أَعْمَالَهُ لِلْخَلْقِ فَلَا عَمَلَ لَهُ.
الْأَعْمَالُ تَكُونُ فِي الْخَلَوَاتِ، لَا تُظْهَرُ فِي الْجَلَوَاتِ سِوَى الْفَرَائِضِ الَّتِي لَا بُدَّ مِنْ إِظْهَارِهَا.
قَدْ سَبَقَ تَفْرِيطُكَ فِي إِحْكَامِكَ لِلْأَسَاسِ.
مَا يَنْفَعُكَ إِحْكَامُكَ لِلْبِنَاءِ الَّذِي فَوْقَهُ.
Artinya
“Wahai anak muda, pemahaman yang hanya berada di lisan tanpa amal hati tidak akan membawamu melangkah satu langkah pun menuju Allah. Perjalanan yang sebenarnya adalah perjalanan hati, dan kedekatan yang sebenarnya adalah kedekatan batin.
Amal yang sejati adalah amal yang lahir dari makna-makna batin, disertai menjaga batas-batas syariat dengan anggota badan serta merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kepada hamba-hamba-Nya.
Barang siapa memberikan nilai dan kedudukan kepada dirinya sendiri, maka tidak ada nilai baginya. Barang siapa menampakkan amal-amalnya kepada manusia [demi mereka], maka tidak ada amal baginya.
Amal-amal hendaknya dilakukan dalam kesunyian dan tidak ditampakkan di hadapan manusia, kecuali kewajiban-kewajiban yang memang harus ditampakkan.
Sungguh, sebelumnya engkau telah lalai dalam mengokohkan pondasi. Maka apa gunanya engkau memperindah dan mengokohkan bangunan yang berada di atasnya?”
Nasihat ini dimulai dengan perbedaan antara فقه اللسان (ilmu yang berada di lisan) dan عمل القلب (amal hati). Seseorang mungkin pandai berbicara tentang ikhlas, tawakal, zuhud, sabar dan ma'rifat, tetapi semua itu belum menjadi perjalanan ruhani selama hatinya belum mengamalkannya. Ilmu tentang tawakal harus melahirkan tawakal; ilmu tentang ikhlas harus melahirkan keikhlasan; dan ilmu tentang tawaduk harus menghancurkan kesombongan. Allah mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ الله أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3)
Kemudian disebutkan, السَّيْرُ سَيْرُ الْقَلْبِ — perjalanan yang sebenarnya adalah perjalanan hati. Dalam tasawuf, perjalanan menuju Allah bukan perjalanan tempat. Orang bisa berada di masjid, majelis ilmu, bahkan di tempat suci, tetapi hatinya masih dipenuhi riya, hasad, cinta pujian dan ketergantungan kepada makhluk. Sebaliknya, seseorang tetap bekerja dan bergaul dengan manusia, tetapi hatinya semakin ikhlas, tawakal, takut dan berharap kepada Allah. Inilah sair al-qalb. Allah berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara’: 88–89)
Namun perjalanan hati tidak berarti meninggalkan syariat. Karena itu Syekh menegaskan مَعَ حِفْظِ حُدُودِ الشَّرْعِ بِالْجَوَارِحِ. Batin harus hidup, tetapi anggota badan tetap terikat hukum Allah. Hati ikhlas, sedangkan anggota badan shalat; hati tawakal, sedangkan tubuh bekerja; hati zuhud, tetapi hak keluarga tetap ditunaikan. Hakikat tanpa syariat menjadi penyimpangan, sedangkan syariat tanpa penghayatan hati dapat menjadi amal yang kering.
Selanjutnya, مَنْ جَعَلَ لِنَفْسِهِ وَزْنًا فَلَا وَزْنَ لَهُ merupakan pendidikan terhadap ego. Semakin seseorang merasa dirinya alim, saleh, penting, berjasa atau lebih tinggi daripada orang lain, semakin besar bahaya ‘ujub dalam dirinya. Orang yang benar-benar dekat kepada Allah justru semakin mengenal kekurangan dirinya. Allah berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Demikian pula ungkapan مَنْ أَظْهَرَ أَعْمَالَهُ لِلْخَلْقِ فَلَا عَمَلَ لَهُ harus dipahami dalam konteks riya: menampakkan amal agar dilihat dan memperoleh kedudukan di hati manusia dapat merusak nilai amal tersebut. Bukan berarti setiap amal yang terlihat orang otomatis tidak bernilai. Shalat berjamaah, mengajar, sedekah terbuka untuk maslahat, dakwah dan berbagai amal sosial memang dapat dilakukan di hadapan manusia. Yang menentukan adalah niatnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal-amal bergantung pada niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itulah amal sunnah yang tidak membutuhkan publikasi lebih aman disembunyikan. الْخَلَوَات berarti keadaan ketika seseorang jauh dari pandangan manusia, sedangkan الْجَلَوَات adalah keadaan ketika ia berada di tengah manusia. Amal tersembunyi sangat penting dalam pendidikan keikhlasan, karena ketika tidak ada yang melihat, seseorang lebih mudah mengetahui: apakah ia beramal untuk Allah atau untuk pandangan manusia.
Allah memuji orang yang bersedekah secara sembunyi maupun terang-terangan:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً
“Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan...” (QS. Al-Baqarah: 274)
Pondasi sebelum bangunan
Bagian terakhir menggunakan perumpamaan yang sangat kuat: pondasi dan bangunan. Tidak ada gunanya sibuk memperindah bangunan apabila pondasinya rapuh. Demikian pula perjalanan ruhani.
Pondasinya adalah iman, tauhid, ikhlas, taubat, dan pelaksanaan kewajiban. Setelah pondasi itu kuat, barulah dibangun di atasnya amal-amal sunnah, zikir, wirid, khalwat, mujahadah dan berbagai maqam ruhani.
Karena itu seseorang jangan sampai sibuk mengejar banyak wirid tetapi melalaikan shalat; berbicara tentang zuhud tetapi masih dikuasai cinta pujian; berbicara tentang tawakal tetapi hatinya sepenuhnya bergantung kepada makhluk; atau berbicara tentang ma'rifat tetapi akhlaknya buruk kepada manusia. Itu seperti menghias lantai atas sementara pondasi rumahnya retak.
