Jangan Salah Memilih Teman: Ketika Pergaulan Mengubah Cara Hati Melihat Orang Baik

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 0
  • Dibaca 97 Kali
Kajian kitab Fathurrobbani

Syekh Abdul Qadir al-Jilani رحمه الله dalam kitab Fathurrobbani  memberikan nasihat:

يَا غُلَامُ، صُحْبَتُكَ لِلْأَشْرَارِ تُوقِعُكَ فِي سُوءِ الظَّنِّ بِالْأَخْيَارِ

“Wahai anak muda, pergaulanmu dengan orang-orang buruk dapat menjatuhkanmu ke dalam prasangka buruk kepada orang-orang baik.”

Kalimat ini tidak sekadar berbicara tentang memilih teman, tetapi berbicara tentang menjaga hati. Sebab pergaulan yang terus-menerus akan memengaruhi cara seseorang berpikir, berbicara, menilai, bahkan memandang kebaikan dan keburukan.


Pergaulan adalah sekolah bagi hati

Manusia sering kali tidak sadar bahwa ia belajar dari orang-orang yang berada di sekelilingnya. Ia bukan hanya belajar dari nasihat yang disampaikan, tetapi juga dari cara temannya berbicara dan memandang orang lain.

Jika setiap hari ia mendengar:

“Dia berbuat baik pasti ada maunya.”

“Dia rajin ibadah pasti ingin dipuji.”

“Dia bersedekah hanya untuk mencari nama.”

“Dia dekat dengan ulama pasti ingin mendapatkan jabatan.”

Lama-kelamaan ucapan tersebut dapat masuk ke dalam pikiran. Awalnya kita hanya mendengar, kemudian terbiasa, lalu mulai mempercayainya. Akhirnya kita melihat orang lain dengan kacamata yang sama.

Inilah yang dimaksud dengan:

تُوقِعُكَ فِي سُوءِ الظَّنِّ بِالْأَخْيَارِ

“Menjatuhkanmu dalam prasangka buruk kepada orang-orang baik.”

Bahaya terbesar dari teman buruk bukan hanya membuat kita melakukan keburukan, tetapi membuat kita kehilangan kemampuan melihat kebaikan sebagai kebaikan.

Rasulullah ﷺ telah memperingatkan tentang pengaruh teman. Rasulullah ﷺ bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah setiap kalian memperhatikan siapa yang dijadikannya teman dekat.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) 

Hadis ini menunjukkan bahwa teman dekat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap agama dan karakter seseorang. Karena itu, memilih teman sebenarnya adalah memilih salah satu jalan yang akan membentuk diri kita.

Penutup

Kalam Syekh Abdul Qadir al-Jilani ini mengajarkan bahwa pergaulan dapat mengubah warna hati tanpa kita sadari.

Awalnya kita hanya duduk bersama mereka.

Kemudian mendengar perkataan mereka.

Kemudian terbiasa dengan cara berpikir mereka.

Kemudian kita mulai mengulang perkataan mereka.

Akhirnya kita melihat dunia dengan kacamata mereka.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Siapa teman saya?”

Tetapi tanyakan:

“Menjadi manusia seperti apa saya setelah lama berteman dengannya?”

Teman yang baik adalah teman yang membuat kita lebih takut kepada Allah, lebih cinta kepada kebaikan, lebih lembut kepada manusia, dan lebih berhati-hati dalam menilai orang lain.

Sebab terkadang seseorang tidak jatuh karena satu dosa besar, tetapi jatuh perlahan karena terlalu lama berada di lingkungan yang membuat dosa terasa biasa dan kebaikan terlihat mencurigakan.

Maka pilihlah sahabat yang ketika bersamanya **iman bertambah, ilmu bertambah, akhlak membaik, dan hati semakin dekat kepada Allah.**