Kecerdasan Sejati: Ketika Akal Membawa kepada Allah
Kajian di masjid tunggu lawang kuripan selatan
Syekh abdul qodir aljailany dalam kitab fathurrobbany berkata :
يَا غُلَامُ، تَنَبَّهْ قَبْلَ أَنْ تُنَبَّهَ بِلَا أَمْرِكَ، وَتَدَيَّنْ وَخَالِطْ أَهْلَ الدِّينِ فَإِنَّهُمْ هُمُ النَّاسُ.
أَعْقَلُ النَّاسِ مَنْ أَطَاعَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَجْهَلُ النَّاسِ مَنْ عَصَاهُ.
Artinya : “Wahai anak muda, sadarlah sebelum engkau disadarkan tanpa kehendakmu. Bersungguh-sungguhlah dalam beragama dan bergaullah dengan orang-orang yang taat beragama, karena sesungguhnya merekalah manusia yang sebenarnya.
Manusia yang paling berakal adalah orang yang taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan manusia yang paling bodoh adalah orang yang bermaksiat kepada-Nya.”
Bangunlah Sebelum Datang Sesuatu yang Membangunkan
Nasihat pertama adalah agar manusia sadar sebelum dipaksa sadar. Selama hidup, Allah memberikan kesempatan kepada seseorang untuk kembali kepada-Nya dengan kesadaran sendiri: melalui ilmu, nasihat, majelis zikir, membaca Al-Qur'an, melihat kematian orang lain, atau merenungkan perjalanan hidup.
Namun ada saat ketika manusia “dibangunkan” tanpa pilihannya. Sakit dapat menyadarkannya tentang lemahnya tubuh. Hilangnya harta menyadarkannya bahwa dunia tidak kekal. Kematian orang yang dicintai mengingatkannya bahwa perpisahan pasti datang. Dan kematian dirinya sendiri adalah kesadaran terakhir ketika kesempatan untuk beramal telah berakhir.
Karena itu Allah mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Orang yang sadar tidak menunggu kematian untuk mengetahui nilai kehidupan. Ia menggunakan kehidupan untuk mempersiapkan kematian.
Nabi ﷺ juga bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. at-Tirmidzi)
Maka التَّنَبُّه (kesadaran) merupakan pintu perubahan. Orang tidak akan memperbaiki dirinya sebelum menyadari bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Beragama Bukan Sekadar Identitas
Setelah memerintahkan untuk sadar, nasihat tersebut dilanjutkan dengan perintah untuk benar-benar beragama.
Beragama bukan hanya mempunyai identitas Islam. الدِّين mengandung makna ketundukan, ketaatan dan kepatuhan kepada Allah.
Karena itu agama harus masuk ke dalam seluruh kehidupan: akidah membenahi keyakinan, syariat mengatur perbuatan, dan ihsan menyucikan hati.
Dengan ungkapan sederhana:
Iman memberikan arah.
Islam memberikan cara.
Ihsan memberikan rasa.
Seseorang beriman sehingga mengetahui kepada siapa hidupnya diarahkan. Ia menjalankan Islam sehingga mengetahui bagaimana berjalan menuju Allah. Kemudian ihsan menjadikan perjalanan tersebut hidup di dalam hati.
Karena itu tanda keberagamaan bukan hanya banyaknya pengetahuan, tetapi kesediaan untuk mengatakan: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
“Kami mendengar dan kami taat.”
Al-Qur'an menjadikan sikap tersebut sebagai karakter orang beriman ketika dipanggil kepada hukum Allah dan Rasul-Nya.
Agama Membutuhkan Pengorbanan
Ketaatan tidak selalu sesuai dengan keinginan nafsu. Karena itulah di dalam agama terdapat التَّضْحِيَة — pengorbanan.
Ada waktu yang dikorbankan untuk salat dan belajar. Ada harta yang dikeluarkan untuk zakat dan sedekah. Ada tenaga untuk berkhidmah. Ada kesenangan yang ditinggalkan karena haram. Bahkan ada keinginan diri yang harus ditundukkan karena tidak sesuai dengan kehendak Allah. Allah berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian dari apa yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92)
Di sinilah kualitas keberagamaan seseorang terlihat: ketika keinginan diri bertemu dengan perintah Allah, mana yang didahulukan?
Beragama bukan hanya menerima apa yang kita sukai dari Allah, tetapi juga bersedia meninggalkan apa yang kita sukai karena Allah.
Pentingnya Bergaul dengan Ahli Agama
Nasihat berikutnya adalah memilih أَهْلُ الدِّين, yaitu orang-orang yang kehidupan mereka membantu kita mengingat Allah dan menjalankan agama.
Al-Qur'an memberikan petunjuk yang sangat jelas:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang dengan mengharapkan keridaan-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Menariknya, Allah menggunakan perintah وَاصْبِرْ نَفْسَكَ — tahan dan sabarkan dirimu untuk tetap bersama mereka. Artinya, lingkungan orang saleh perlu dijaga meskipun terkadang nasihat mereka tidak selalu menyenangkan hawa nafsu.
Mengapa lingkungan begitu penting? Karena hati manusia mudah terpengaruh. Apa yang sering dilihat, didengar dan dibicarakan perlahan-lahan membentuk kecenderungan hati. Nabi ﷺ bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang berada di atas agama sahabat dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dijadikannya sahabat.”
Maka memilih teman sebenarnya juga berarti memilih lingkungan yang akan membentuk hati.
Mengapa Mereka Disebut “Manusia yang Sebenarnya”?
Ungkapan “merekalah manusia” bukan berarti orang selain mereka tidak dianggap manusia secara jasmani. Ini merupakan ungkapan penegasan tentang manusia yang memahami tujuan penciptaannya.
Manusia bukan hanya makhluk yang makan, bekerja, mencari harta, membangun rumah, mempunyai kedudukan lalu meninggal. Manusia diciptakan untuk mengenal dan mengabdi kepada Allah.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Maka manusia yang matang adalah manusia yang mengetahui dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana akhirnya ia kembali.
Orang Paling Berakal Adalah yang Taat kepada Allah
Di sinilah nasihat tersebut memberikan ukuran berbeda tentang kecerdasan.
Dalam kehidupan dunia, orang cerdas biasanya dinilai dari kemampuan berpikir, pendidikan, strategi, kekayaan pengetahuan, atau kecakapannya menyelesaikan persoalan. Semua itu merupakan bentuk kecerdasan yang bernilai.
Tetapi dalam perspektif akhirat, kecerdasan mencapai kesempurnaannya ketika akal mampu menunjukkan seseorang kepada pilihan yang paling membawa keselamatan.
Jika seseorang mengetahui bahwa dunia sementara dan akhirat kekal, kemudian ia memilih mengorbankan akhirat demi kenikmatan sesaat, berarti ia belum menggunakan akalnya secara sempurna untuk tujuan akhirnya.
Maka akal yang benar tidak berhenti pada mengetahui, tetapi membawa kepada menaati.
عِلْمٌ → فَهْمٌ → عَمَلٌ → طَاعَةٌ
Ilmu melahirkan pemahaman, pemahaman mendorong amal, dan amal yang benar membawa kepada ketaatan.
Mengapa Orang yang Bermaksiat Disebut Paling Bodoh?
Yang dimaksud bukan bahwa setiap orang yang berbuat maksiat tidak memiliki kecerdasan intelektual. Seseorang bisa sangat pandai dalam ilmu dunia, tetapi tetap melakukan kesalahan dalam pilihan hidupnya.
Kebodohan yang dimaksud adalah kebodohan dalam menentukan sesuatu yang bermanfaat dan membahayakan bagi akhiratnya.
Lebih berat lagi apabila seseorang sudah mengetahui tetapi tetap melanggar. Ia mengetahui bahwa sesuatu dilarang, memahami akibatnya, tetapi hawa nafsunya mengalahkan pengetahuannya. Maka ada kebodohan karena tidak tahu, dan ada kebodohan yang lebih berbahaya: sudah tahu tetapi tidak mau tunduk kepada kebenaran.
