Ketika Allah Menyiapkan Hamba-Nya Menuju Zuhud yang Hakiki
Kajian kitab fathurrabbani masjid bermi timur jagaraga
Syekh Abdul Qadir al-Jailani رحمه الله dalam Al-Fath ar-Rabbani berkata:
إِذَا أَرَادَ عَبْدًا لِأَمْرٍ هَيَّأَهُ لَهُ. هٰذَا شَيْءٌ يَتَعَلَّقُ بِالْمَعَانِي لَا بِالصُّوَرِ. إِذَا تَمَّ لِلْعَبْدِ مَا ذَكَرْتُ صَحَّ زُهْدُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا سِوَى الْمَوْلَى.
Artinya “Apabila Allah menghendaki seorang hamba untuk suatu urusan, Dia akan mempersiapkannya untuk urusan tersebut. Ini adalah perkara yang berkaitan dengan makna dan keadaan batin, bukan sekadar bentuk lahiriah. Apabila telah sempurna pada diri seorang hamba apa yang telah aku sebutkan, maka benarlah zuhudnya terhadap dunia, akhirat, dan segala sesuatu selain Allah Yang Maha Menguasai.”
Pembahasan :
Allah Menyiapkan Hamba Sebelum Memberinya Amanah
Ketika Allah menghendaki seorang hamba untuk menjalankan suatu kebaikan atau amanah, Allah dapat mempersiapkannya terlebih dahulu. Persiapan tersebut tidak selalu berbentuk kemudahan dan kesenangan. Terkadang seseorang dipersiapkan melalui ilmu, guru, pengalaman, tanggung jawab, kesulitan, kehilangan, bahkan kegagalan.
Kisah Nabi Musa عليه السلام memberikan gambaran yang sangat jelas. Allah berfirman:
وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِي
“Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.” (QS. Thaha: 41)
Sebelum menerima tugas besar sebagai rasul, Nabi Musa melewati perjalanan panjang. Beliau dibesarkan di istana Fir‘aun, meninggalkan Mesir, hidup di Madyan, menggembala, kemudian kembali untuk menghadapi Fir‘aun. Berbagai perjalanan tersebut menjadi bagian dari pendidikan Allah sebelum datangnya amanah yang besar.
Karena itu, tidak semua kesulitan harus dipandang sebagai keburukan. Ada keadaan tertentu yang justru menjadi jalan Allah untuk mendewasakan hati, memperluas pengalaman, dan mempersiapkan seseorang menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.
Persiapan Batin Lebih Penting daripada Penampilan Lahir
Kematangan seorang hamba tidak cukup dinilai dari penampilan lahiriahnya. Ada sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu keadaan hati. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Persiapan batin itu antara lain berupa bertambahnya iman, keikhlasan, kesabaran, tawakal, ridha, ilmu, ma‘rifat kepada Allah, serta semakin berkurangnya ketergantungan hati kepada makhluk.
Dengan demikian, kematangan ruhani tidak diukur dari seberapa banyak seseorang berbicara tentang maqam dan tasawuf, tetapi dari seberapa bersih hatinya dan seberapa baik amal yang lahir dari kebersihan hati tersebut.
Menggunakan Sebab tanpa Menggantungkan Hati kepada Sebab
Salah satu bentuk kematangan batin adalah kemampuan menempatkan sebab pada tempatnya.
Islam tidak mengajarkan seseorang meninggalkan usaha. Orang yang membutuhkan rezeki tetap bekerja. Orang sakit tetap berobat. Orang yang ingin berilmu tetap belajar. Orang yang mempunyai tujuan tetap menyusun ikhtiar. Namun semua sebab itu tidak menjadi tempat bergantungnya hati.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Seorang hamba bekerja, tetapi mengetahui bahwa pekerjaan bukan pemberi rezeki. Ia berobat, tetapi mengetahui bahwa obat bukan pemberi kesembuhan. Ia belajar kepada guru, tetapi mengetahui bahwa Allah-lah yang memberikan pemahaman.
Sebab dijalani oleh anggota badan, sedangkan hati tetap bersandar kepada Allah.
Zuhud terhadap Dunia
Ketika keyakinan tersebut semakin kuat, tumbuhlah zuhud yang benar. Zuhud bukan berarti harus meninggalkan harta, pekerjaan, keluarga, atau kedudukan. Hakikat zuhud adalah tidak membiarkan dunia menguasai hati. Allah berfirman:
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
“Agar kamu tidak terlalu bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu membanggakan diri terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 23)
Orang yang zuhud tetap memiliki dan menggunakan dunia. Perbedaannya, ketika dunia datang ia bersyukur dan ketika dunia pergi ia bersabar. Kekayaan tidak membuatnya lupa kepada Allah, sedangkan kehilangan tidak membuatnya kehilangan kepercayaan kepada Allah.
Dunia berada di tangannya, tetapi tidak menjadi penguasa hatinya.
Zuhud terhadap Akhirat
Zuhud terhadap akhirat bukan berarti tidak mengharapkan surga dan tidak takut kepada neraka. Mengharapkan surga dan memohon perlindungan dari neraka merupakan ajaran Al-Qur’an. Allah mengajarkan doa:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)
Yang dimaksud dalam perjalanan tasawuf adalah bahwa hati seorang hamba tidak berhenti pada pemberian Allah sehingga melupakan Sang Pemberi.
Ia mengharapkan surga, tetapi di atas kenikmatan surga ia mencari keridaan Allah. Sebagaimana firman-Nya:
وَرِضْوَانٌ مِنَ اللهِ أَكْبَرُ
“Dan keridaan Allah adalah lebih besar.” (QS. At-Taubah: 72)
Dengan demikian, orientasi seorang hamba semakin meningkat: dari mencintai pemberian menuju mencintai Sang Pemberi, dari mencari nikmat menuju mencari ridha Allah.
Zuhud dari Segala Sesuatu Selain Allah
Inilah tingkatan yang lebih dalam. Maksudnya bukan meninggalkan manusia, keluarga, pekerjaan, harta, atau kehidupan sosial. Justru orang yang dekat kepada Allah seharusnya semakin besar manfaatnya bagi manusia.
Yang berubah adalah pusat orientasi hatinya. Tidak ada sesuatu selain Allah yang menjadi tujuan tertinggi dan sandaran mutlaknya.
Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An‘am: 162)
Ia bekerja karena Allah, mencari ilmu karena Allah, menggunakan hartanya karena Allah, menjalankan kedudukan sebagai amanah, serta berkhidmah kepada manusia karena mengharapkan keridaan Allah.
Dengan demikian, zuhud bukan sekadar meninggalkan sesuatu yang dimiliki, tetapi membebaskan hati dari ketergantungan kepada sesuatu selain Allah.
