Ketika Zohir Tampak Saleh, tetapi Batin Masih Rusak

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 0
  • Dibaca 101 Kali
Kajian di masjid lawang kute lembar

الْمَرَائِي ثَوْبُهُ نَظِيفٌ وَقَلْبُهُ نَجِسٌ، يَزْهَدُ فِي الْمُبَاحَاتِ وَيَكْسِلُ الِاكْتِسَابَ، وَيَأْكُلُ بِدِينِهِ وَلَا يَتَوَرَّعُ جُمْلَةً،
يَأْكُلُ الْحَرَامَ الصَّرِيحَ، يَخْفَى أَمْرُهُ عَلَى الْعَوَامِّ وَلَا يَخْفَى عَلَى الْخَوَاصِّ. كُلُّ زُهْدِهِ وَطَاعَتِهِ عَلَى ظَاهِرِهِ، ظَاهِرُهُ عَامِرٌ وَبَاطِنُهُ خَرَابٌ، وَيْلَكَ طَاعَةُ الله  عَزَّ وَجَلَّ بِالْقَلْبِ وَبِالْقَالَبِ.
كُلُّ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ تَتَعَلَّقُ بِالْقُلُوبِ وَالْأَسْرَارِ وَالْمَعَانِي.
تَعَرَّ مِمَّا أَنْتَ فِيهِ حَتَّى آخُذَ لَكَ مِنَ الْحَقِّ عَزَّ وَجَلَّ كِسْوَةً لَا تَبْلَى عَوْضًا

Artinya : “Orang yang riya, pakaiannya bersih tetapi hatinya najis. Ia bersikap zuhud terhadap perkara-perkara yang mubah, tetapi malas bekerja mencari penghidupan. Ia mencari makan dengan menjadikan agamanya sebagai alat, dan sama sekali tidak menjaga diri dengan sikap wara’. Bahkan ia memakan yang jelas-jelas haram.

Keadaannya tersembunyi bagi orang-orang awam, tetapi tidak tersembunyi bagi orang-orang khusus. Seluruh kezuhudan dan ketaatannya hanya tampak pada lahiriahnya. Lahirnya terlihat makmur, tetapi batinnya rusak.

Celakalah engkau! Ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla harus dilakukan dengan hati dan jasad. Semua perkara ini berkaitan dengan hati, rahasia batin, dan hakikat makna.

Tanggalkanlah segala keadaan buruk yang sedang melekat pada dirimu, sehingga aku dapat mengambilkan untukmu dari Allah ‘Azza wa Jalla pakaian yang tidak akan pernah usang sebagai gantinya.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani memberikan peringatan keras tentang bahaya kesalehan yang hanya berhenti pada penampilan. Seseorang mungkin terlihat sederhana, pakaiannya bersih, tutur katanya lembut, banyak beribadah, bahkan tampak meninggalkan kesenangan dunia. Namun semua itu belum menjadi ukuran kebersihan hati. Beliau menggambarkannya dengan ungkapan yang sangat tajam: pakaiannya bersih, tetapi hatinya najis.

Najisnya hati di sini bukanlah najis secara fikih, melainkan penyakit batin seperti riya, cinta pujian, ketamakan, kemunafikan amal, dan menjadikan agama sebagai jalan memperoleh kepentingan dunia. Karena itu Allah mengingatkan:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ  بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara’: 88–89)

Zuhud Bukan Berarti Malas Bekerja

Salah satu kritik penting dalam nasihat ini adalah terhadap orang yang meninggalkan perkara mubah tetapi malas mencari penghidupan. Ia mengira bahwa menjauhi pekerjaan, penghasilan, atau kenikmatan yang halal merupakan tanda zuhud. Padahal zuhud bukanlah mengharamkan yang halal atau meninggalkan usaha yang bermanfaat. Allah berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ 

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi dan carilah karunia Allah.” (QS. Al-Jumu‘ah: 10)

Dengan demikian, bekerja tidak bertentangan dengan zuhud. Zuhud adalah ketika tangan bekerja mencari dunia, tetapi hati tidak diperbudak oleh dunia. Seseorang boleh memiliki harta, usaha, jabatan, dan berbagai fasilitas yang halal, selama semua itu tidak menguasai hatinya dan tidak menjauhkannya dari Allah.

Jangan Menjadikan Agama sebagai Alat Mencari Dunia

Syekh Abdul Qadir kemudian mengingatkan bahaya yang lebih berat: “Ia makan dengan agamanya.” Maksudnya, agama dijadikan alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Ilmu, ibadah, penampilan saleh, kedudukan keagamaan, atau pengaruh di tengah umat tidak lagi semata-mata digunakan untuk mengabdi kepada Allah, tetapi dijadikan jalan mengejar kepentingan dunia.

Inilah yang harus sangat ditakuti oleh orang berilmu dan orang yang memiliki kedudukan di tengah masyarakat. Persoalannya bukan sekadar menerima harta dari pekerjaan keagamaan, sebab ada keadaan yang dibolehkan syariat. Persoalannya adalah ketika agama sengaja diperdagangkan demi kepentingan dunia, sementara kebenaran dikorbankan demi keuntungan pribadi. Allah berfirman:

وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا

“Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.” (QS. Al-Baqarah: 41)

Kesalehan Tidak Cukup pada Penampilan

Syekh Abdul Qadir menggambarkan keadaan yang sangat berbahaya:

“Lahirnya makmur, tetapi batinnya rusak.”

Lahirnya dipenuhi ibadah, tetapi batinnya dipenuhi keinginan untuk dipuji. Lahirnya berbicara tentang zuhud, tetapi hatinya sangat mencintai kedudukan. Lahirnya berbicara tentang tawakal, tetapi hatinya menggantungkan diri kepada manusia. Lahirnya tampak melayani agama, tetapi diam-diam agama digunakan untuk melayani kepentingan dirinya.

Inilah sebabnya orang awam terkadang tertipu oleh penampilan, sedangkan orang yang memiliki kejernihan ilmu dan hati dapat melihat tanda-tanda ketidaksesuaian antara lahir dan batin. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ  لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Ketaatan Harus Menyatukan Hati dan Jasad

Pesan utama Syekh Abdul Qadir adalah bahwa perjalanan menuju Allah tidak cukup dengan memperbaiki zahir, tetapi juga harus membersihkan batin. Jasad taat melalui salat, puasa, sedekah, bekerja secara halal, menjaga ucapan, dan meninggalkan maksiat. Sementara hati taat dengan ikhlas, tawakal, takut kepada Allah, berharap kepada-Nya, ridha, dan tidak menggantungkan diri kepada selain-Nya.

Karena itu, kesempurnaan seorang hamba terletak pada keselarasan keduanya: zahirnya mengikuti syariat dan batinnya menghadap Allah.

Salatnya terlihat oleh manusia, tetapi ikhlasnya hanya diketahui Allah. Tangannya bekerja mencari rezeki, tetapi hatinya mengetahui bahwa Allah-lah Sang Pemberi rezeki. Ia berkhidmah kepada manusia, tetapi tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan.

Menanggalkan Pakaian Lama, Mengenakan Pakaian dari Allah

Pada akhir nasihatnya, Syekh Abdul Qadir menggunakan perumpamaan yang sangat indah: “Tanggalkanlah apa yang sedang melekat pada dirimu, sehingga aku mengambilkan untukmu dari Allah pakaian yang tidak akan usang sebagai gantinya.”

Yang harus ditanggalkan bukan pakaian secara fisik, melainkan pakaian batin yang kotor: riya, ujub, ketamakan, cinta pujian, kemalasan, ketergantungan kepada makhluk, memanfaatkan agama untuk dunia, dan keberanian terhadap perkara haram.

Setelah pakaian-pakaian itu dilepaskan melalui taubat dan mujahadah, Allah menghiasi hati dengan pakaian baru: ikhlas, wara’, zuhud, tawakal, qana‘ah, kejujuran, dan makrifat kepada Allah. Allah berfirman:

وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَٰلِكَ خَيْرٌ

“Dan pakaian takwa, itulah yang paling baik.” (QS. Al-A‘raf: 26)