Lima Sikap dalam Menjalani Takdir Kehidupan

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 0
  • Dibaca 2 Kali
Kajian

Hidup tidak selalu berjalan sebagaimana yang kita rencanakan. Ada keinginan yang segera tercapai, ada yang harus menunggu. Ada jalan yang terbuka dengan mudah, ada pula yang telah diperjuangkan dengan sungguh-sungguh tetapi akhirnya tertutup.

Di sinilah iman mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak hanya harus pandai berusaha, tetapi juga harus pandai menata hati. Ada saatnya kita berikhtiar, ada saatnya bertawakal, ada saatnya bersyukur, ada saatnya bersabar, dan pada akhirnya ada saatnya menerima dengan ridha. Allah berfirman:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Qamar: 49)

Maka perjalanan hidup seorang mukmin dapat dirangkai dalam lima sikap berikut.

1. Sebelum Terjadi: Ikhtiar

Selama sesuatu masih berada di hadapan kita dan masih mungkin diperjuangkan, tugas kita bukan menebak-nebak takdir, melainkan melakukan ikhtiar terbaik.

Ingin mendapatkan ilmu, maka belajarlah. Ingin mendapatkan rezeki, maka bekerjalah. Ingin sembuh, maka berobatlah. Ingin sebuah cita-cita tercapai, maka susunlah langkah dan perjuangkanlah. Rasulullah ﷺ bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِالله وَلَا تَعْجَزْ

“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah.” (HR. Muslim)

Iman kepada takdir tidak boleh menjadi alasan untuk bermalas-malasan. Sebab kita tidak mengetahui apa yang telah Allah tetapkan untuk hari esok.

Takdir adalah rahasia Allah, sedangkan ikhtiar adalah kewajiban hamba.

Karena itu, jangan berkata, “Kalau memang rezeki saya, pasti datang sendiri.” Bisa jadi Allah menetapkan rezeki itu datang melalui langkah yang kita lakukan hari ini.

2. Dalam Perjalanan: Doa dan Tawakal

Setelah ikhtiar dilakukan, jangan merasa usaha kita cukup untuk menentukan hasil. Ada banyak hal yang berada di luar kemampuan manusia.

Di sinilah ikhtiar harus ditemani doa dan tawakal. Allah berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى الله إِنَّ الله يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Kita membuat rencana, tetapi Allah yang menentukan jalannya. Kita mengetuk pintu, tetapi Allah yang membukanya. Kita menanam, tetapi Allah yang menumbuhkannya.

Maka jangan hanya memperbanyak usaha dan melupakan doa. Sebaliknya, jangan hanya memperbanyak doa tetapi meninggalkan usaha. Tangan bekerja, lisan berdoa, dan hati bersandar kepada Allah. Itulah tawakal.

3. Ketika Berhasil: Syukur

Tidak sedikit manusia mampu bertahan ketika susah, tetapi justru berubah ketika berhasil. Ketika keinginannya tercapai, perlahan ia merasa bahwa semuanya adalah hasil kemampuan dirinya sendiri.

Karena itu, keberhasilan juga merupakan ujian. Allah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)

Syukur mengajarkan bahwa usaha kita memang mempunyai peran, tetapi kemampuan untuk berusaha, kesempatan, kesehatan, orang-orang yang membantu, hingga hasil akhirnya semuanya merupakan karunia Allah.

Maka ketika berhasil jangan hanya mengatakan, “Saya berhasil karena kerja keras saya.” Lebih sempurna apabila hati mengatakan:

“Alhamdulillah, Allah memberikan hasil melalui usaha yang saya lakukan.”

Semakin tinggi seseorang diangkat Allah, seharusnya semakin rendah hatinya di hadapan Allah.

4. Ketika Belum Berhasil: Sabar

Tidak semua ikhtiar langsung menghasilkan apa yang kita inginkan.

Ada doa yang lama menunggu jawaban. Ada perjuangan yang belum menemukan hasil. Ada pintu yang berkali-kali diketuk tetapi belum juga terbuka.

Pada keadaan seperti inilah kita membutuhkan sabar. Allah berfirman:

إِنَّ الله مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Sabar bukan berarti berhenti. Sabar adalah kemampuan untuk tetap berjalan meskipun hasil belum terlihat.

Boleh jadi bukan doanya yang ditolak, tetapi waktunya belum tiba. Boleh jadi bukan jalannya yang salah, tetapi Allah sedang mempersiapkan kita agar lebih siap ketika menerimanya. Allah mengingatkan:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Karena itu, jangan menjadikan keterlambatan sebagai alasan untuk berputus asa.

Kadang-kadang Allah tidak mengatakan “tidak”, tetapi Allah mengatakan, “belum.”

5. Ketika Ketetapan Telah Datang: Ridha

Ada satu titik ketika manusia telah berusaha, telah berdoa, telah menunggu dan telah melakukan apa yang mampu dilakukan, tetapi akhirnya Allah menetapkan sesuatu yang berbeda dengan keinginannya. Di sinilah diperlukan ridha. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ الله وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Apabila sesuatu menimpamu, janganlah berkata: ‘Seandainya aku melakukan demikian tentu hasilnya akan begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah: ‘Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan.’” (HR. Muslim)

Ridha bukan berarti tidak sedih. Ridha juga bukan berarti tidak boleh kecewa. Hati manusia tetap bisa merasakan kehilangan. Tetapi di balik kesedihan itu ada keyakinan:

“Saya sudah berusaha semampu saya. Jika akhirnya Allah memilihkan sesuatu yang berbeda, pasti ilmu Allah lebih sempurna daripada pengetahuan saya.” Inilah ketenangan orang yang beriman kepada takdir. Dari Ikhtiar Menuju Ridha

Ikhtiarlah sebelum mengetahui hasilnya. Berdoalah selama menjalaninya. Bersyukurlah ketika mendapatkannya. Bersabarlah ketika belum mendapatkannya. Dan ridhalah ketika Allah telah menetapkan akhirnya.

Sebab tugas kita adalah menyempurnakan usaha, bukan menentukan hasil. Hasil adalah hak Allah; sedangkan ikhtiar, doa, syukur, sabar, dan ridha adalah jalan penghambaan kita kepada-Nya.