Menghadapi Dunia dengan Sabar, Syariat, dan Tauhid

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 0
  • Dibaca 229 Kali
Kajian di maajid menang gerung

Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Al-Fath ar-Rabbani memberikan nasihat:

يَا قَوْمُ، اصْبِرُوا فَإِنَّ الدُّنْيَا كُلَّهَا آفَاتٌ وَمَصَائِبُ، وَالنَّادِرُ مِنْهَا غَيْرُ ذَلِكَ. مَا مِنْ نِعْمَةٍ إِلَّا وَفِي جَنْبِهَا نِقْمَةٌ مَا مِنْ فَرْحَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا تَرْحَةٌ، مَا مِنْ سَعَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ضِيقٌ.

أَعْطُوا الدُّنْيَا حَيَاتَكُمْ وَتَنَاوَلُوا أَقْسَامَكُمْ مِنْهَا بِيَدِ الشَّرْعِ، فَإِنَّهُ هُوَ الدَّوَاءُ فِي تَنَاوُلِ مَا يُؤْخَذُ مِنَ الدُّنْيَا.

يَا غُلَامُ، خُذِ الْأَقْسَامَ بِيَدِ الشَّرْعِ إِذَا كُنْتَ مُرِيدًا، وَبِيَدِ الْأَمْرِ إِذَا كُنْتَ خَاصًّا صِدِّيقًا، وَبِيَدِ فِعْلِ الله عَزَّ وَجَلَّ إِذَا كُنْتَ قانتا وَاصِلًا مُقَرَّبًا.

Artinya : “Wahai kaumku, bersabarlah. Sesungguhnya dunia seluruhnya dipenuhi berbagai gangguan dan musibah, sedangkan keadaan yang tidak demikian hanyalah sedikit. Tidak ada suatu kenikmatan kecuali di sisinya terdapat sesuatu yang dapat menjadi kesusahan. Tidak ada kegembiraan kecuali bersamanya ada kesedihan. Tidak ada kelapangan kecuali bersamanya ada kesempitan.

Berikanlah kepada dunia bagian dari kehidupan kalian, dan ambillah bagian-bagian yang telah ditetapkan untuk kalian darinya dengan tangan syariat. Sesungguhnya syariat itulah obat dalam mengambil apa yang diambil dari dunia.

Wahai anak muda, ambillah bagian-bagianmu dengan tangan syariat apabila engkau seorang murid; dengan tangan perintah apabila engkau termasuk orang khusus lagi shiddiq; dan dengan tangan perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla apabila engkau taat, sampai, dan didekatkan kepada-Nya.”

Dunia adalah Tempat Ujian

Nasihat ini dimulai dengan perintah اصْبِرُوا — “bersabarlah.” Kesabaran diperlukan karena dunia bukan tempat ketenangan yang sempurna. Di dalamnya selalu ada perubahan: sehat dapat berganti sakit, kelapangan dapat disusul kesempitan, pertemuan berakhir dengan perpisahan, dan sesuatu yang dimiliki hari ini mungkin tidak lagi dimiliki esok hari. Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)

Memahami hakikat dunia menjadikan seseorang lebih seimbang. Ia bersyukur ketika menerima nikmat, tetapi tidak diperbudak olehnya. Ia bersabar ketika menghadapi musibah, tetapi tidak kehilangan harapan kepada Allah.

Di Balik Nikmat Ada Ujian

Ungkapan مَا مِنْ نِعْمَةٍ إِلَّا وَفِي جَنْبِهَا نِقْمَةٌ tidak harus dipahami bahwa setiap nikmat pasti berubah menjadi azab. Maknanya, kenikmatan dunia tidak terlepas dari ujian, tanggung jawab, risiko, dan kemungkinan hilang.

Harta adalah nikmat, tetapi di dalamnya terdapat amanah. Ilmu adalah nikmat, tetapi menuntut pengamalan. Jabatan adalah nikmat, tetapi mengandung pertanggungjawaban. Keluarga adalah nikmat, tetapi membutuhkan kesabaran dan pemeliharaan.

Demikian pula kegembiraan dunia tidak bersifat kekal. Karena itu, Allah mengajarkan keseimbangan hati:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

“Agar kamu tidak terlalu bersedih terhadap apa yang luput darimu dan tidak pula terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 23)

Bukan berarti seorang mukmin tidak boleh bergembira atau bersedih. Yang dijaga adalah agar perubahan dunia tidak menguasai hati dan menjauhkannya dari Allah.

Mengambil Dunia dengan Tangan Syariat

Syekh Abdul Qadir tidak mengajarkan agar manusia meninggalkan seluruh urusan dunia. Beliau justru mengatakan:

تَنَاوَلُوا أَقْسَامَكُمْ مِنْهَا بِيَدِ الشَّرْعِ

“Ambillah bagian kalian dari dunia dengan tangan syariat.”

Artinya, manusia boleh bekerja, berdagang, memiliki harta, berkeluarga, memegang jabatan, dan menikmati sesuatu yang Allah halalkan. Namun cara memperoleh dan menggunakannya harus berada dalam batas-batas syariat.

Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar banyak atau sedikitnya dunia yang dimiliki, melainkan bagaimana memperolehnya, untuk apa menggunakannya, dan kepada siapa hati bergantung ketika memilikinya.

Dari Syariat Menuju Perintah Allah

Syekh Abdul Qadir kemudian menjelaskan perjalanan ruhani seorang hamba:

خُذِ الْأَقْسَامَ بِيَدِ الشَّرْعِ إِذَا كُنْتَ مُرِيدًا

Seorang murid mengambil bagiannya dengan tangan syariat. Ukuran pertamanya adalah halal dan haram. Ketika mendapatkan harta, ia memastikan sumbernya halal. Ketika bekerja, ia menjauhi penipuan dan kezaliman. Ketika menggunakan harta, ia menjaga agar tidak dipakai untuk maksiat.

Setelah itu terdapat tingkatan:

وَبِيَدِ الْأَمْرِ إِذَا كُنْتَ خَاصًّا صِدِّيقًا

Orang yang telah mencapai tingkat khāṣṣ dan ṣiddīq tidak hanya bertanya, “Apakah ini halal bagiku?”, tetapi juga, “Apa yang Allah perintahkan kepadaku dalam keadaan ini?”

Harta yang dimilikinya mungkin halal untuk dinikmati, tetapi ketika di hadapannya ada kewajiban, amanah, keluarga yang membutuhkan, fakir miskin, atau kemaslahatan umat, ia mendahulukan apa yang menjadi tuntutan ketaatan kepada Allah.

Maka perjalanan ruhani bergerak dari sekadar mengetahui batas hukum menuju kesadaran menjalankan kehendak dan perintah Allah.

Melihat Perbuatan Allah di Balik Segala Sebab

Tingkatan yang lebih dalam digambarkan dengan:

وَبِيَدِ فِعْلِ الله عَزَّ وَجَلَّ إِذَا كُنْتَ قانتا وَاصِلًا مُقَرَّبًا

Pada maqam ini, seorang hamba tetap berpegang teguh kepada syariat dan tetap menjalankan sebab-sebab kehidupan. Namun pandangan batinnya tidak berhenti kepada sebab.

Ketika rezeki datang melalui seseorang, ia berterima kasih kepada orang tersebut, tetapi hatinya mengetahui bahwa hakikat Pemberi adalah Allah. Ketika usahanya berhasil, ia tetap menghargai kerja keras, tetapi menyadari bahwa keberhasilan terjadi karena taufik Allah. Ketika sesuatu hilang, ia melakukan ikhtiar, tetapi hatinya tidak tenggelam dalam kemarahan kepada sebab.

Inilah makna tauhid yang semakin matang: sebab tetap digunakan, tetapi hati tidak bergantung kepada sebab.

Seorang petani tetap menanam, tetapi tidak meyakini bahwa benih dengan sendirinya menciptakan hasil. Orang sakit tetap berobat, tetapi tidak memandang obat sebagai penyembuh yang berdiri sendiri. Seseorang tetap bekerja mencari rezeki, tetapi tidak menganggap pekerjaan sebagai sumber rezeki yang sebenarnya.

Tiga Kedalaman dalam Menghadapi Harta

Apabila ketiga keadaan tersebut diterapkan pada harta, perbedaannya menjadi lebih mudah dipahami.

Seorang murid berkata dalam hatinya: “Apakah harta ini halal dan bagaimana syariat mengatur penggunaannya?”

Seorang khāṣṣ ṣiddīq meningkat dengan bertanya: “Apa yang Allah kehendaki untuk aku lakukan dengan harta yang telah diberikan kepadaku?”

Sedangkan seorang yang telah mencapai maqam fānī, wāṣil, dan muqarrab melihat lebih dalam: “Harta ini milik Allah. Dia yang mendatangkannya, Dia pula yang dapat mengambilnya. Aku hanya menerima, menggunakan, dan mempertanggungjawabkan amanah-Nya.”

Ketiga tingkatan tersebut bukan saling meniadakan. Tingkatan kedua tidak meninggalkan syariat, dan tingkatan ketiga tidak meninggalkan syariat maupun perintah. Justru semakin tinggi perjalanan ruhani seseorang, semakin sempurna kepatuhannya kepada Allah.

Ambillah dunia dengan tangan syariat, jalankanlah dengan perintah Allah, dan jangan biarkan hati bergantung kepada selain-Nya.