Menundukkan Kesombongan dan Membebaskan Hati dari Ketamakan
Kajian di masjid Tanjung Gunung
Berkata Syekh Abdul qodir Al Jailani dalam kitab AlFathurrobbani halaman 27
يَا قَوْمُ، دَعُوا التَّكَبُّرَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَى خَلْقِهِ،
اعْرِفُوا قَدْرَكُمْ وَتَوَاضَعُوا فِي أَنْفُسِكُمْ،
أَوَّلُكُمْ نُطْفَةٌ قَذِرَةٌ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ،
وَآخِرُكُمْ جِيفَةٌ مُلْقَاةٌ،
لَا تَكُونُوا مِمَّنْ يَقُودُهُ الطَّمَعُ وَيَصِيدُهُ الْهَوَى،
وَيَحْمِلُهُ الْهَوَى إِلَى أَبْوَابِ السَّلَاطِينِ فِي طَلَبِ شَيْءٍ مِنْهُمْ لَمْ يُقْسَمْ لَهُ،
أَوْ يَطْلُبُ مِنْهُمْ مَا قَدْ قُسِمَ لَهُ بِالذُّلِّ وَالْمَهَانَةِ.
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ:
أَشَدُّ عُقُوبَاتِ الله عَزَّ وَجَلَّ لِعَبْدِهِ طَلَبُهُ مَا لَمْ يُقْسَمْ لَهُ.
Artinya : “Wahai kaumku, tinggalkanlah kesombongan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla dan terhadap makhluk-Nya. Kenalilah kedudukan diri kalian dan bersikaplah rendah hati. Permulaan kalian hanyalah setetes air yang hina, sedangkan akhir kalian adalah jasad yang tergeletak.
Janganlah kalian menjadi orang yang digiring oleh ketamakan dan ditangkap oleh hawa nafsu. Hawa nafsu membawanya ke pintu-pintu para penguasa untuk meminta sesuatu yang tidak ditetapkan baginya, atau meminta kepada mereka sesuatu yang sebenarnya telah ditetapkan baginya, tetapi ia mendapatkannya dengan kehinaan dan merendahkan dirinya.
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Di antara hukuman Allah yang paling berat bagi seorang hamba adalah ia mengejar sesuatu yang tidak ditetapkan baginya.’”
Mengenal Diri adalah Jalan Menuju Tawaduk
Nasihat pertama adalah meninggalkan kesombongan kepada Allah dan kepada manusia. Kesombongan kepada Allah tampak ketika seseorang mengetahui perintah-Nya tetapi enggan tunduk karena lebih memperturutkan dirinya. Kesombongan kepada manusia muncul ketika seseorang merasa lebih tinggi lalu meremehkan orang lain. Allah berfirman:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Rasulullah ﷺ memberikan ukuran yang sangat jelas:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)
Karena itu, mengenal diri (معرفة النفس) merupakan obat kesombongan. Manusia perlu mengingat bahwa asal jasadnya lemah dan akhirnya akan meninggalkan dunia. Kesadaran tersebut bukan untuk merendahkan martabat manusia, tetapi untuk menghancurkan perasaan “aku lebih hebat” yang tumbuh dalam hati.
Semakin seseorang mengenal kelemahannya sebagai hamba, semakin ia menyadari kebesaran Allah.
Ketamakan Membuat Hati Kehilangan Kemerdekaan
Setelah kesombongan, nasihat ini beralih kepada الطَّمَع (ketamakan) dan الهوى (hawa nafsu). Ungkapan “ketamakan menggiringnya dan hawa nafsu menangkapnya” menggambarkan manusia yang tidak lagi mengendalikan keinginannya, tetapi justru dikendalikan olehnya.
Keinginan pada dasarnya tidak tercela. Manusia boleh menginginkan rezeki, keberhasilan, kedudukan, dan kehidupan yang baik. Masalah muncul ketika keinginan berubah menjadi ketamakan sehingga seseorang bersedia mengorbankan prinsip, kehormatan, bahkan agamanya demi memperoleh sesuatu.
Di sinilah perbedaan antara mencari dunia dan diperbudak dunia. Orang pertama menggunakan dunia sebagai sarana; orang kedua menjadikan dunia sebagai penguasa hatinya.
Mendatangi Pintu Manusia: Antara Ikhtiar dan Ketergantungan
Nasihat tentang mendatangi “pintu para penguasa” tidak harus dipahami sebagai larangan berhubungan dengan pemimpin, orang kaya, atau orang yang mempunyai kemampuan. Meminta bantuan yang dibenarkan, membangun hubungan, bekerja, berdagang, dan menggunakan berbagai sebab tetap merupakan bagian dari kehidupan.
Yang diperingatkan adalah ketergantungan hati kepada manusia sampai seseorang meyakini bahwa nasib dan rezekinya berada di tangan mereka. Allah berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا
“Tidak ada satu makhluk bergerak pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Manusia dapat menjadi السَّبَب (sebab), tetapi Allah adalah Zat yang menentukan bekerjanya sebab. Karena itu, seseorang boleh mengetuk pintu manusia dengan tangannya, tetapi jangan sampai hatinya meninggalkan pintu Allah.
Rezeki yang Telah Ditentukan Tidak Perlu Dicari dengan Kehinaan
Kalimat berikutnya lebih tajam: seseorang mungkin mencari sesuatu yang memang menjadi bagian rezekinya, tetapi ia mencarinya dengan الذُّلّ والمهانة — kehinaan dan merendahkan diri.
Artinya, sesuatu yang halal jangan dicari melalui jalan yang menghinakan agama dan merusak harga diri. Jangan karena mengejar harta seseorang menjadi penjilat; karena mengejar jabatan ia menggadaikan prinsip; atau karena mengharapkan bantuan manusia ia rela melakukan sesuatu yang tidak diridai Allah.Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)
Tawakal bukan berarti duduk tanpa usaha. Rasulullah ﷺ menggambarkan burung yang mendapatkan rezekinya: ia keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang. Burung bertawakal, tetapi tetap keluar mencari rezeki.
Maka keseimbangannya adalah: badan bergerak mencari sebab, sedangkan hati bersandar kepada Allah.
Ketika Keinginan Berubah Menjadi Hukuman
Bagian terakhir memberikan peringatan bahwa mengejar sesuatu yang bukan bagian kita dapat menjadi penderitaan bagi hati. Seseorang terus mengejar, membandingkan dirinya dengan orang lain, mengetuk berbagai pintu, bahkan merendahkan dirinya. Ketika tidak mendapatkannya, ia kecewa kepada manusia dan mulai mempertanyakan ketentuan Allah.
Di sinilah qanaah menjadi penting. Qanaah bukan berhenti bercita-cita atau meninggalkan usaha. Qanaah adalah ketenangan hati setelah melakukan ikhtiar: bersungguh-sungguh dalam usaha, tetapi menerima bahwa hasil berada dalam ketentuan Allah.
Karena itu, tawakal tidak mematikan ikhtiar; justru ia memerdekakan ikhtiar dari kegelisahan.
Kesimpulan
Nasihat ini membentuk satu perjalanan hati:
معرفة النفس → التواضع → ضبط الهوى → ترك الطمع → الأخذ بالأسباب → التوكل على الله
Mengenal diri → tawaduk → mengendalikan hawa nafsu → membebaskan diri dari ketamakan → menggunakan sebab → bertawakal kepada Allah.
Orang yang matang bukanlah orang yang berhenti bekerja atau tidak membutuhkan siapa pun. Ia tetap berusaha, berhubungan dengan manusia, dan menggunakan segala sebab yang halal. Namun ia memahami batasnya: sebab berada di tangannya, bukan menguasai hatinya; manusia dapat menjadi perantara rezeki, tetapi Allah tetap menjadi tempat bergantung.
Ambillah sebab tanpa menggantungkan hati kepadanya, carilah rezeki tanpa melupakan Sang Pemberi, dan jagalah kehormatan diri dengan tetap bersandar kepada Allah.
