Merantau Ilmu ke Jawa—Menapaki Jejak di Pondok Pesantren Alfalah Ploso

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 0
  • Dibaca 1 Kali
Bersama H. Nurdin di ponpes queen 2002

Setelah menyelesaikan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Darussalam pada tahun 2002, saya diarahkan untuk memperluas wawasan dan memperdalam keilmuan dengan belajar di luar pulau. Bagi saya, ini bukan sekadar berpindah tempat belajar, tetapi juga sebuah langkah untuk mencari pengalaman hidup yang lebih luas. Dari berbagai pesantren di Jawa, pilihan akhirnya jatuh kepada Pondok Pesantren Alfalah Ploso di Kediri, Jawa Timur—sebuah pesantren yang dikenal kuat dalam tradisi keilmuan kitab kuning. Saya teringat pesan para ulama:

“اطلبوا العلم ولو بالصين”

Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri yang jauh, sebuah isyarat bahwa perjalanan jauh adalah bagian dari kesungguhan dalam menuntut ilmu.

Pondok Pesantren Alfalah memiliki beragam sistem pendidikan. Ada yang fokus penuh pada kajian kitab kuning, dan ada pula yang menggabungkannya dengan pendidikan formal. Saya memilih jalur yang menggabungkan keduanya—mengaji kitab sekaligus melanjutkan pendidikan formal di SMAN 1 Mojo Kediri. Pilihan ini saya ambil sebagai ikhtiar untuk menyeimbangkan antara ilmu agama dan ilmu umum, agar kelak dapat memberi manfaat yang lebih luas.

Perjalanan menuju Jawa menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Saya menyeberang dari Pelabuhan Lembar menuju Padang Bai, Bali, menggunakan kapal laut, lalu melanjutkan perjalanan ke Jawa. Dalam perjalanan itu, saya didampingi oleh Haji Nurdin (alm.) yang dengan penuh tanggung jawab mengantarkan hingga ke tujuan. Sementara itu, ayahanda tidak bisa ikut mengantar karena tengah menjalankan amanah memimpin majelis dzikir dalam rangkaian haul keliling yang berlangsung setiap malam. Meski demikian, saya merasakan bahwa doa beliau selalu menyertai langkah saya.

Keberangkatan ini bukan hanya perpindahan tempat, tetapi awal dari fase baru dalam kehidupan saya—fase kemandirian dan perjuangan. Saya menyadari bahwa jalan ilmu tidak selalu mudah. Sebagaimana dikatakan oleh para ulama:

“من سلك طريقًا يلتمس فيه علمًا سهل الله له به طريقًا إلى الجنة”

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.

Setibanya di Pondok Pesantren Alfalah Ploso, saya tinggal di asrama Queen Alfalah yang saat itu dihuni sekitar 350 santri. Lingkungan ini menjadi dunia baru bagi saya. Beragam latar belakang santri, budaya, dan tradisi keilmuan yang berbeda membuat saya harus cepat beradaptasi. Saya merasa kecil di tengah lautan ilmu yang begitu luas.

Sebelum memulai pembelajaran, saya mengikuti ujian penempatan, baik secara lisan maupun tulisan. Dari hasil ujian tersebut, saya ditempatkan di kelas 1 sanawiyah—tingkatan yang cukup tinggi dalam struktur pembelajaran kitab. Penempatan ini menjadi tantangan tersendiri, karena di satu sisi menunjukkan bekal yang saya miliki, namun di sisi lain menuntut saya untuk mampu mengikuti ritme pembelajaran yang lebih berat.

Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah bahasa. Mayoritas santri di kelas tersebut sudah mahir membaca kitab kuning dengan terjemahan bahasa Jawa kuno (pegon), sementara saya belum familiar dengan itu. Selama dua bulan pertama, saya berusaha beradaptasi dan mengejar ketertinggalan. Hingga suatu ketika, saya diminta membaca kitab, namun belum mampu mengikuti metode yang digunakan.

Guru saya pun menegur dengan nada heran, “Sudah di kelas 1 sanawi, tapi tidak bisa baca kitab?” Dengan penuh hormat saya menjawab, “Mohon maaf ustadz, saya belum bisa membaca dengan terjemahan Jawa karena masih asing, tetapi saya paham jika menggunakan bahasa Indonesia dan bisa menjelaskannya.” Mendengar itu, beliau meminta saya untuk menjelaskan. Dengan penuh keyakinan, saya mencoba menjelaskan sesuai pemahaman saya. Dari situlah, beliau memberikan dorongan dan motivasi, melihat bahwa di balik keterbatasan, ada semangat yang tidak boleh padam.

Dari pengalaman itu saya belajar, bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, tetapi tantangan untuk terus berkembang. Sebagaimana hikmah ulama:

“من جدّ وجد، ومن صبر ظفر”

 Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil, dan siapa yang bersabar akan beruntung.

Perjalanan merantau ini mengajarkan saya tentang arti perjuangan, kemandirian, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Saya mulai memahami bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, adalah bagian dari proses besar yang sedang Allah siapkan.

Hikmah:

Perjalanan menuntut ilmu bukan tentang seberapa jauh langkah kaki melangkah, tetapi seberapa kuat hati bertahan dalam setiap ujian. Keterbatasan hanyalah pintu menuju kesungguhan, dan kesungguhan adalah jalan menuju keberhasilan.