Sebab di Tangan, Allah di Hati
Masjid dusun Adeng jagaraga kuripan
Dalam menjalani kehidupan, manusia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai sebab. Untuk mendapatkan rezeki seseorang bekerja, untuk memperoleh ilmu seseorang belajar, untuk mendapatkan kesembuhan seseorang berobat, dan untuk mencapai keberhasilan seseorang berusaha. Islam tidak mengajarkan manusia meninggalkan sebab. Justru manusia diperintahkan untuk berikhtiar dengan sungguh-sungguh.
Namun ada sesuatu yang lebih penting daripada menggunakan sebab, yaitu menjaga hati agar tidak bergantung kepada sebab.
Gunakan Sebab, Jangan Bergantung kepada Sebab
Sebab hanyalah jalan, bukan penentu. Pekerjaan merupakan jalan datangnya rezeki, tetapi pekerjaan bukan pemberi rezeki. Obat merupakan jalan menuju kesembuhan, tetapi obat bukan pemberi kesembuhan. Manusia dapat menjadi jalan datangnya pertolongan, tetapi manusia bukan sumber pertolongan yang hakiki. Di sinilah seorang mukmin harus mampu membedakan antara menggunakan sebab dan bergantung kepada sebab.
Menggunakan sebab adalah bagian dari ikhtiar. Sedangkan menggantungkan hati kepada sebab dapat membuat seseorang melupakan Allah sebagai المسبب, Zat yang menciptakan sebab dan menentukan hasilnya.
Karena itu, prinsip seorang mukmin adalah:
“Sebab cukup berada di tangan, jangan sampai mengambil tempat Allah di dalam hati.”
Kita bekerja sebaik-baiknya, tetapi tidak meyakini pekerjaan sebagai jaminan mutlak. Kita merencanakan dengan matang, tetapi tetap menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah.
Carilah Rezeki, Jangan Melupakan Pemberi Rezeki
Mencari rezeki adalah bagian dari tanggung jawab kehidupan. Namun kesibukan mencari rezeki terkadang membuat manusia lupa kepada الرزاق, Sang Pemberi rezeki.
Ada orang yang begitu takut kehilangan pekerjaan, tetapi tidak takut kehilangan kedekatan dengan Allah. Ada yang sangat gelisah ketika penghasilannya berkurang, tetapi tidak gelisah ketika ibadahnya berkurang. Ada pula yang mengejar tambahan harta dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak memiliki kesungguhan yang sama dalam mencari keberkahan.
Padahal rezeki bukan hanya persoalan berapa banyak yang diperoleh, tetapi juga dari mana ia datang, bagaimana ia digunakan, dan apakah Allah memberikan keberkahan di dalamnya.
Karena itu, carilah rezeki dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan sampai kesibukan mencari pemberian membuat kita melupakan Sang Pemberi.
“Carilah rezeki-Nya dengan tanganmu, tetapi carilah ridha-Nya dengan hatimu.”
Beramallah, tetapi Jangan Mencari Selain Allah
Persoalan yang lebih halus muncul dalam amal ibadah. Seseorang dapat meninggalkan ketergantungan kepada harta, tetapi masih bergantung kepada pujian manusia.
Ia beramal, tetapi ingin dilihat.
Ia berkhidmah, tetapi ingin dihormati.
Ia berdakwah, tetapi ingin dikenal.
Ia memberi, tetapi mengharapkan balasan.
Ia melakukan kebaikan, tetapi kecewa ketika manusia tidak menghargainya.
Di sinilah pentingnya الاخلاص, keikhlasan.
Ikhlas bukan berarti berhenti berbuat karena takut dipuji. Ikhlas adalah terus berbuat baik sambil terus membersihkan tujuan hati. Amal dilakukan karena Allah, bukan untuk membangun kedudukan di hadapan manusia.
Semakin ikhlas seseorang, semakin kecil ketergantungannya kepada penilaian manusia. Dipuji tidak membuatnya lupa diri, dicela tidak membuatnya berhenti berbuat baik, dan tidak dihargai tidak membuatnya kehilangan semangat. Sebab yang ia cari bukanlah pandangan manusia, melainkan penerimaan Allah.
Dari Pemberian Menuju Sang Pemberi
Perjalanan ruhani seorang hamba pada awalnya mungkin dipenuhi dengan permintaan: meminta rezeki, kesehatan, kemudahan, keselamatan, keberhasilan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Semua itu diperbolehkan. Allah sendiri memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa. Namun perjalanan hati seharusnya terus meningkat.
Pada awalnya kita mencari pemberian Allah, kemudian belajar mengenal Sang Pemberi. Pada awalnya kita beribadah karena membutuhkan pertolongan-Nya, kemudian tumbuh kesadaran bahwa kedekatan kepada Allah sendiri merupakan karunia yang jauh lebih berharga.
Maka seorang hamba tidak lagi hanya bertanya:
“Apa yang akan Allah berikan kepadaku?”
Tetapi hatinya mulai bertanya:
“Apakah Allah ridha kepadaku?”
Inilah perubahan dari sekadar mencari العطاء (pemberian) menuju mengenal dan mencintai المعطي (Sang Pemberi).
Tangan Berikhtiar, Hati Bertawakal
Kehidupan yang seimbang bukanlah meninggalkan dunia, tetapi menempatkan dunia pada tempatnya. Bekerjalah, berdaganglah, belajarlah, berobatlah, buatlah perencanaan dan gunakanlah seluruh sebab yang baik. Namun setelah semuanya dilakukan, jangan serahkan hati kepada sebab tersebut.
Tangan tetap berikhtiar, hati tetap bertawakal.
Rezeki tetap dicari, Ar-Razzaq tidak dilupakan.
Amal tetap dilakukan, tetapi ridha Allah yang menjadi tujuan.
Pada akhirnya, kedewasaan ruhani bukan ditandai dengan meninggalkan sebab, melainkan mampu menggunakan sebab tanpa diperbudak olehnya.
