Sentuhan Ayahanda—Awal Tumbuhnya Jiwa Dakwah dalam Diri

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 0
  • Dibaca 3 Kali
Tahun 1993

Lingkungan keluarga menjadi tempat pertama saya belajar tentang makna hidup. Saya lahir dan tumbuh di tengah suasana yang tidak pernah jauh dari nilai-nilai keislaman. Ayahanda saya, TGH. Ridwanullah, bukan hanya seorang ayah, tetapi juga guru pertama yang menanamkan arah dan tujuan kehidupan. Dari beliau, saya mulai mengenal bahwa hidup bukan sekadar dijalani, tetapi harus diisi dengan ilmu dan pengabdian.

Sejak usia dini, saya sudah dibiasakan hidup teratur. Setiap ba’da sholat subuh, saya duduk di hadapan ayahanda. Dengan penuh kesabaran, beliau membimbing saya membaca Al-Qur’an dan memahami dasar-dasar agama. Momen itu terasa sederhana, tetapi kini saya menyadari bahwa di situlah fondasi hidup saya dibangun. Saya teringat sebuah hikmah ulama:

“التعليم في الصغر كالنقش على الحجر”

Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, sulit dihapus dan akan terus membekas.

Dari kebiasaan itu, saya mulai memahami bahwa ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk diamalkan. Ayahanda tidak banyak berbicara tentang teori kehidupan, tetapi beliau menunjukkan dengan keteladanan. Dalam diam, saya belajar bahwa kedisiplinan, kesabaran, dan keikhlasan adalah bagian dari jalan ilmu itu sendiri.

Setelah selesai belajar, ayahanda biasanya memberikan saya uang seribu rupiah. Nilai yang mungkin kecil hari ini, tetapi saat itu terasa sangat besar bagi saya. Dengan penuh semangat, saya menunggu penjual singkong yang berjalan kaki melintas di depan pondok. Singkong itu saya beli, lalu saya makan dengan campuran madu sebagai sarapan sederhana. Dari kebiasaan kecil itu, saya belajar arti syukur. Sebagaimana dikatakan oleh para ulama:

“من لم يشكر القليل لم يشكر الكثير”

Siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri yang banyak.

Pagi hari, saya pergi ke Madrasah Ibtidaiyah Darussalam untuk belajar hingga waktu zuhur. Setelah itu, saya bermain bersama teman-teman seperti anak-anak lainnya. Masa kecil saya tetap dipenuhi dengan keceriaan. Tawa dan kebersamaan di lingkungan pesantren menjadi bagian penting dalam membentuk jiwa saya. Saya belajar bahwa hidup harus seimbang—antara kesungguhan dalam menuntut ilmu dan kebahagiaan dalam menjalani masa kanak-kanak.

Namun, ketika malam tiba, perjalanan itu kembali berlanjut. Setelah sholat magrib, saya melanjutkan belajar di bawah bimbingan Haji Adnan Ibrahim. Di sinilah saya mulai dilatih berbicara dan menyampaikan pesan di hadapan orang lain. Awalnya tidak mudah, tetapi perlahan saya mulai terbiasa. Saya teringat sabda Rasulullahﷺ:

“بلّغوا عني ولو آية”

Sampaikan dariku walau satu ayat.

Hadis ini seakan menjadi dorongan bagi saya untuk terus belajar dan berani menyampaikan kebaikan.

Ketika ayahanda menghendaki saya tampil dalam sebuah acara, persiapan dilakukan dengan sangat serius. Bahkan satu minggu sebelumnya, saya sudah diberikan materi untuk dipahami dan dihafalkan. Saya berlatih berulang-ulang, mencoba menghilangkan rasa takut yang sering muncul. Dari proses itu, saya mulai memahami satu hal: keberanian bukan datang tiba-tiba, tetapi lahir dari latihan dan kesungguhan. “من جدّ وجد” — siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan hasilnya.

Semua proses yang saya jalani itu perlahan membentuk diri saya. Saya bukan hanya belajar berbicara, tetapi belajar tentang tanggung jawab dari setiap kata yang diucapkan. Saya mulai merasakan bahwa dakwah bukan sekadar tampil di depan banyak orang, tetapi tentang menyampaikan kebenaran dengan hati yang tulus.

Kini ketika saya mengingat kembali masa-masa itu, saya menyadari bahwa sentuhan ayahanda bukan hanya membimbing langkah saya, tetapi juga menanamkan arah hidup saya. Apa yang dulu terasa sebagai rutinitas, ternyata adalah bagian dari proses besar yang sedang Allah siapkan.

Dan dari situlah, perlahan saya mulai melangkah… menuju jalan dakwah yang lebih luas

Hikmah ; 

● Didikan sejak dini menentukan arah hidup.

● Keteladanan orang tua adalah pendidikan terbaik.

● Kesungguhan kecil hari ini melahirkan hasil besar di masa depan.