Takdir Menguji Kejujuran Hati
Kajian di masjid reyan
Renungan dari Nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Al-Fath ar-Rabbani
Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengingatkan bahwa perjalanan hidup manusia berada dalam berbagai tasharruf Allah: kadang diberi, kadang ditahan; kadang dilapangkan, kadang disempitkan; kadang memperoleh sesuatu yang diharapkan, kadang justru menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan. Perubahan keadaan itu bukan tanpa tujuan. Melalui semuanya, Allah menampakkan bagaimana sikap seorang hamba. Allah berfirman:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyā’: 35)
Ujian Menampakkan Keteguhan Hati
Syekh Abdul Qadir mengajukan pertanyaan yang sangat mendalam: apakah ketika diuji kita tetap teguh atau justru mundur? Apakah pengakuan kita benar atau ternyata dusta?
Ketika hidup berjalan sesuai keinginan, seseorang mudah mengatakan bahwa dirinya sabar, tawakal, ridha, dan mencintai Allah. Tetapi keadaan hati yang sebenarnya baru tampak ketika ketetapan Allah berbeda dengan keinginannya. Allah berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ الله الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah benar-benar menampakkan orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabūt: 2–3)
Dengan demikian, ujian bukan hanya kesulitan. Ia adalah alat untuk membuktikan kejujuran pengakuan hati. Tawakal terbukti ketika sebab melemah. Sabar terbukti ketika musibah datang. Ikhlas terbukti ketika tidak mendapatkan pujian. Dan ridha terlihat ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginan.
Menerima Ketetapan Allah
Selanjutnya Syekh Abdul Qadir mengingatkan tentang pentingnya menerima qadar dan qadha’ Allah. Maksudnya bukan manusia dilarang berusaha mengubah keadaan. Syariat tetap memerintahkan ikhtiar. Orang sakit berobat, orang miskin bekerja, orang yang tidak tahu belajar, dan orang yang berbuat salah wajib memperbaiki dirinya.
Yang harus ditundukkan adalah penolakan hati terhadap Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR. Muslim)
Maka ridha dan ikhtiar tidak bertentangan. Anggota badan berusaha, lisan berdoa, sedangkan hati menyerahkan hasil kepada Allah.
Jangan Menjadikan Kehendak Diri sebagai Ukuran
Nasihat Syekh Abdul Qadir kemudian menjadi semakin tajam. Beliau menegur orang yang seolah-olah ingin mengubah ketetapan Allah agar selalu sesuai dengan kemauannya. Seakan-akan seorang hamba berkata dalam hatinya: “Allah harus memberikan apa yang aku inginkan, pada waktu yang aku inginkan, dan dengan cara yang aku inginkan.”
Di sinilah tersembunyi penyakit kehendak diri.
Allah berfirman:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ
“Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih. Tidak ada pilihan bagi mereka.” (QS. Al-Qashash: 68)
Bukan berarti seorang hamba tidak boleh mempunyai keinginan. Kita boleh bercita-cita, berencana, memilih, berusaha dan berdoa. Tetapi seorang hamba harus sadar bahwa keinginannya berada di bawah kehendak Allah, bukan kehendak Allah berada di bawah keinginannya.
Karena itu, ketika hasil berbeda dari rencana, jangan sampai hati mempersoalkan Allah: “Mengapa harus begini?” Sebaliknya, tanyakan kepada diri sendiri: “Apa yang Allah kehendaki dariku melalui keadaan ini?”
Baliklah Cara Pandangmu
Syekh Abdul Qadir mengatakan bahwa persoalannya sering kali terbalik. Manusia ingin Allah mengikuti kehendaknya, padahal hambalah yang harus belajar menyesuaikan kehendaknya dengan apa yang diridhai Allah.
Inilah perubahan besar dalam perjalanan ruhani. Pada awalnya seseorang berdoa:
“Ya Allah, berikanlah apa yang aku inginkan.”
Setelah hatinya semakin matang, doanya berkembang menjadi:
“Ya Allah, berikanlah yang terbaik menurut-Mu dan jadikan hatiku ridha terhadap pilihan-Mu.”
Allah berfirman:
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal ia buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ujian Membedakan Pengakuan dan Kenyataan
Syekh Abdul Qadir memberikan ungkapan yang sangat kuat: seandainya tidak ada ketetapan-ketetapan Allah yang menguji manusia, pengakuan-pengakuan dusta tidak akan diketahui.
Seseorang dapat mengaku zuhud selama dunia belum datang kepadanya. Ia dapat mengaku sabar selama belum mendapatkan musibah. Ia dapat mengaku ikhlas selama masih dihormati. Ia dapat mengaku tawakal selama semua sebab masih tersedia. Ketika keadaan berubah, barulah isi hati terlihat. Karena itu beliau menggambarkan:
عِنْدَ التَّجَارِبِ تَتَبَيَّنُ الْجَوَاهِرُ
“Ketika melalui berbagai ujian, tampaklah kualitas permata.”
Permata tidak diketahui nilainya hanya dari penampilan luarnya. Ia harus diuji. Demikian pula hati manusia. Nilai hati tidak hanya diketahui dari banyaknya ucapan, tetapi dari keteguhannya ketika menghadapi ujian.
Jangan Menyalahkan Takdir, Periksalah Diri
Pada bagian akhir, Syekh Abdul Qadir mengarahkan pandangan seorang salik kembali kepada dirinya sendiri. Ketika hati menolak ketetapan Allah, yang pertama kali harus diperiksa bukanlah takdir, melainkan nafsu dalam diri. Allah berfirman:
إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra‘d: 11)
Maka ketika menghadapi ujian, jangan hanya bertanya, “Kapan keadaan ini berubah?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Apa yang harus berubah dalam diriku melalui keadaan ini?”
Boleh jadi Allah belum mengubah keadaan karena Dia sedang mengubah hati kita: dari bergantung kepada makhluk menjadi bergantung kepada-Nya, dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari kelalaian menuju zikir, dari kegelisahan menuju tawakal, dan dari memperturutkan kehendak diri menuju ridha kepada Allah.
