Waktu Pagi dan Pesan dari Bangau

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 0
  • Dibaca 191 Kali
Pagi hari di kota Pasuruan

Pagi itu, dari balik jendela hotel di Pasuruan, cahaya matahari menembus perlahan, menyibakkan tirai kabut tipis yang menyelimuti kota. Di langit biru yang luas, ribuan bangau berarak membentuk barisan, terbang dengan irama yang teratur, seolah melukis kanvas langit dengan gerakan anggun. Hampir satu jam lamanya saya duduk terpaku, menyaksikan pemandangan yang begitu memesona. Hati saya bergetar, sebab di Lombok, tanah kelahiran saya, burung-burung semacam itu sudah lama tak lagi menghiasi angkasa desa. Hilang ditelan perubahan zaman, punah oleh tangan-tangan manusia dan pergeseran alam.

Bangau yang terbang berkelompok bukan sekadar hiasan langit, melainkan tanda kebesaran Allah tentang kebersamaan, kesabaran, dan keyakinan pada rezeki. Burung-burung itu tak pernah membawa bekal, tak menimbun makanan, tetapi Allah telah menyiapkan rizki di setiap langkah sayapnya. Mereka hanya terbang, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dengan tawakal yang sempurna.

Hikmahnya, manusia pun seyogianya belajar dari bangau: janganlah risau berlebihan tentang rezeki, sebab rezeki itu dijamin oleh Allah, datang sesuai usaha dan kadar tawakal kita. Seperti bangau yang tetap menjaga kebersamaan dalam barisan, kita pun hendaknya menjaga persatuan dalam mencari karunia-Nya. Langit Pasuruan pagi itu memberi saya pelajaran, bahwa meski burung di langit desa telah tiada, pesan keteguhan dan harapan dari bangau masih hidup untuk mereka yang mau melihat dengan hati.