“Apakah Kekasih Akan Mengingat Kekasihnya di Hari Kiamat?”

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 4
  • Dibaca 1545 Kali
Safari Haul di masjid sedayu kuripan

???? Cinta Duniawi vs Cinta Ilahi

Cinta adalah fitrah manusia. Ada cinta suami kepada istri, santri kepada kiainya, murid kepada gurunya, bahkan jamaah kepada mursyidnya. Namun, pernahkah kita berpikir:

Apakah cinta itu masih berarti di hari kiamat?

Apakah seorang kekasih masih akan mengingat kekasihnya ketika bumi diguncang, langit terbelah, dan manusia dibangkitkan dalam keadaan telanjang dan ketakutan?

???? Hari yang Semua Sibuk Sendiri

Al-Qur’an menjawab dengan tegas:

 يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ • وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ • وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ

“Pada hari itu, seseorang lari dari saudaranya, dari ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 34–36)

Artinya, hari itu bukan lagi waktu untuk mengenang cinta, tapi hari di mana setiap jiwa sibuk dengan nasibnya sendiri.

Rasulullah ﷺ menjelaskan, manusia akan dibangkitkan dalam keadaan telanjang, tidak beralas kaki, dan belum disunat.

Ketika Sayyidah ‘Aisyah bertanya, “Apakah mereka saling melihat, ya Rasulullah?” beliau menjawab: “Urusan hari itu terlalu dahsyat, hingga mereka tidak sempat memandang satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cinta duniawi—betapa pun indahnya—akan memudar ketika bumi bergetar hebat. Namun, ada satu jenis cinta yang tidak akan padam di akhirat, bahkan justru menjadi penyelamat.

Cinta Karena Allah: Tak Lekang oleh Waktu

Rasulullah ﷺ bersabda:

 المتحابون في الله على منابر من نور، يغبطهم النبيون والشهداء

“Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya; para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka.” (HR. Tirmidzi)

Cinta karena Allah bukan didasari wajah, harta, atau jabatan. Ia muncul dari hati yang sama-sama ingin mendekat kepada Allah. Cinta seperti inilah yang akan tetap hidup di mahsyar, bahkan menjadi sebab pertemuan kembali di surga. Allah ﷻ menegaskan:

 الأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman karib pada hari itu menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

 Cinta yang Menyelamatkan

● Cinta karena Allah menjadikan seseorang:

● Mendoakan kekasihnya agar istiqamah.

● Menegur ketika yang dicintai berbuat salah.

●Menyambung silaturahmi meski ada perbedaan.

● Dan tetap mendoakan meski sudah tidak bersama.

Inilah cinta yang akan dikenali dan disatukan Allah kembali di surga, seperti firman-Nya:

 وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

“Orang-orang yang beriman, dan diikuti oleh keturunannya dalam keimanan, Kami pertemukan mereka kembali di surga.” (QS. At-Thur: 21)

 Doa Cinta Abadi

اللَّهُمَّ اجْمَعْنَا مَعَ مَنْ نُحِبُّ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ،

عَلَى مَحَبَّتِكَ وَطَاعَتِكَ،

وَلَا تَجْعَلْ حُبَّنَا دُنْيَوِيًّا يَنْقَطِعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ،

بَلْ اجْعَلْهُ سَبَبًا لِدُخُولِنَا الْجَنَّةَ مَعًا.

Ya Allah, pertemukanlah kami bersama orang-orang yang kami cintai di dunia dan akhirat,

di atas cinta dan ketaatan kepada-Mu.

Jangan jadikan cinta kami hanya urusan dunia yang terputus di hari kiamat,

tapi jadikan ia sebab untuk masuk surga bersama-sama.

 Penutup

Cinta sejati tidak berakhir di dunia, tidak hancur oleh kematian,

dan tidak padam di padang mahsyar.

Ia hanya berubah bentuk—dari rasa di hati menjadi rahmat di sisi Ilahi.

Jadi, jika kita benar-benar mencintai seseorang, doakanlah ia menjadi ahli surga.

Sebab hanya di sana, cinta abadi tanpa air mata akan bersemi