• TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • 04 Agustus 2026

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa obat paling ampuh untuk menghilangkan tipu daya dunia adalah memperkuat iman dan menggunakan akal yang jernih. Iman membuat seseorang percaya kepada janji Allah, sedangkan akal yang sehat menyadarkan bahwa tidak mungkin kenikmatan yang sementara lebih layak dipilih daripada kenikmatan yang kekal.

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • 04 Agustus 2026

Perjalanan manusia menuju Allah memiliki tingkatan yang jelas: makhluk, mukallaf, mukmin atau kafir, kemudian mukmin yang taat atau bermaksiat, lalu alim atau jahil. Namun, pada setiap tingkatan itu terdapat satu bahaya yang sama, yaitu al-ghurūr (ketertipuan). Oleh karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya merasa telah beriman, rajin beribadah, atau memiliki ilmu. Yang paling penting adalah terus memperbaiki niat, memperbanyak muhasabah, memohon keikhlasan, serta meminta perlindungan kepada

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • 07 Oktober 2025

Hari kiamat bukan hari biasa. Itu hari di mana bumi bergetar, gunung beterbangan, dan manusia berlari dari orang yang paling dicintainya. Allah berfirman: > “Hari ketika seseorang lari dari saudaranya, dari ibunya, dari ayahnya, dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 34–36) Tak ada lagi pelukan, tak ada lagi tawa. Setiap orang sibuk dengan catatan amalnya sendiri. Namun... ada satu cinta yang tak terputus — cinta karena Allah.

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • 05 Juli 2025

Syair “ثم صلاته سلامه على سيدنا محمد قد أرسلا” menjadi ungkapan puncak cinta dan penghormatan kepada Rasulullah ﷺ. Ia bukan hanya puisi, tetapi bagian dari syariat, akhlak, dan iman. Mari kita jadikan shalawat sebagai bagian dari kehidupan: dalam ibadah, dalam doa, dalam dzikir, dan dalam kesibukan harian. Karena shalawat adalah cahaya, dan Nabi Muhammad ﷺ adalah lampu penuntun menuju ridha Allah.

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • 03 Juli 2025

Syair ini mengajak kita untuk merenungi luasnya nikmat dan rahmat Allah. Ia mengajarkan bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah karunia. Bahkan, makhluk seluruhnya — manusia, hewan, tumbuhan — mendapatkan bagian dari rahmat-Nya yang melimpah

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • 01 Juli 2025

Syukur adalah kewajiban yang hakiki dan berkelanjutan, bukan sekadar ucapan lisan. Ia mencerminkan pengakuan mendalam atas nikmat Allah yang terus mengalir hingga saat ini. Banyaknya pujian yang kita panjatkan bukan hanya bentuk ibadah, tapi juga bukti kesadaran dan penghargaan terhadap karunia-Nya. Syukur yang benar harus dibuktikan dengan hati yang tunduk, lisan yang memuji, dan amal yang sesuai dengan nikmat yang diberikan.