Jangan Sampai Tertipu: Memahami Hakikat Mukallaf dan Perjalanan Manusia Menuju Akhirat

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 0
  • Dibaca 2 Kali
Kajian Subuh bersama santri

Segala puji bagi Allah Swt. yang menciptakan manusia bukan sekadar untuk hidup di dunia, tetapi untuk mengabdi kepada-Nya. Setiap manusia hendaknya memahami siapa dirinya, apa tugas hidupnya, dan apa bahaya terbesar yang mengancam perjalanan menuju Allah. Para ulama menjelaskan bahwa mengenal hakikat diri adalah pintu menuju keselamatan. Sementara itu, tidak mengenal diri akan membuka pintu ketertipuan (الغرور) yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam kebinasaan.

Makhluk Terbagi Menjadi Dua

Para ulama menjelaskan bahwa seluruh makhluk terbagi menjadi dua bagian, yaitu hewan dan bukan hewan.

Yang dimaksud hewan (الحيوان) adalah setiap makhluk hidup yang memiliki kehidupan, dapat merasakan, dan bergerak dengan kehendaknya sendiri. Adapun selain itu termasuk benda mati dan tumbuh-tumbuhan yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut.

Namun, tidak semua makhluk hidup dibebani hukum syariat. Karena itu, hewan terbagi lagi menjadi dua golongan.

Hewan Terbagi Menjadi Mukallaf dan Bukan Mukallaf

Golongan pertama adalah mukallaf, yaitu makhluk yang dibebani oleh Allah dengan syariat. Mereka diperintahkan untuk beribadah, dilarang berbuat maksiat, dijanjikan pahala apabila taat, dan diancam siksa apabila durhaka.

Allah Swt. berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zāriyāt: 56)

Allah juga berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya." (QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Sedangkan golongan kedua adalah bukan mukallaf, yaitu makhluk yang tidak dibebani syariat, seperti binatang. Mereka tidak diwajibkan shalat, puasa, zakat maupun haji, tetapi tetap tunduk kepada ketentuan Allah sesuai fitrah penciptaannya.

Allah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ

"Tidak ada seekor binatang melata di bumi dan tidak pula seekor burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan semuanya adalah umat-umat seperti kamu." (QS. Al-An‘ām: 38)

Mukallaf Terbagi Menjadi Mukmin dan Kafir

Setelah seseorang menjadi mukallaf, ia berada pada salah satu dari dua golongan besar.

Golongan pertama adalah mukmin, yaitu orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS. Al-Ḥujurāt: 10)

Golongan kedua adalah kafir, yaitu orang yang menolak keimanan dan kebenaran.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman." (QS. Al-Baqarah: 6)

Mukmin Terbagi Menjadi Dua

Keimanan seseorang belum tentu menunjukkan kesempurnaan amalnya. Oleh sebab itu, para ulama menjelaskan bahwa orang mukmin terbagi menjadi dua.

Pertama, mukmin yang taat, yaitu mereka yang menjaga shalat, melaksanakan kewajiban, menjauhi larangan Allah, serta segera bertaubat apabila tergelincir.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا الله ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka." (QS. Fuṣṣilat: 30)

Kedua, mukmin yang bermaksiat, yaitu orang yang masih memiliki iman tetapi sering terjatuh dalam dosa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat." (HR. At-Tirmidzi)

Selama ia tidak menghalalkan maksiat dan tidak keluar dari keimanan, ia tetap seorang mukmin yang membutuhkan taubat dan rahmat Allah.

Orang Taat dan Orang Bermaksiat Sama-sama Terbagi Menjadi Dua

Inilah pembahasan yang sangat halus dan penting. Baik orang yang taat maupun orang yang bermaksiat masing-masing terbagi lagi menjadi dua golongan, yaitu alim dan jahil.

Alim

Alim adalah orang yang mengetahui hukum-hukum Allah berdasarkan ilmu yang benar.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama." (QS. Fāṭir: 28)

Namun ilmu bukan jaminan keselamatan apabila tidak diamalkan. Bahkan orang alim lebih berat hisabnya apabila ilmunya tidak melahirkan ketakwaan.

Jahil

Jahil adalah orang yang tidak mengetahui hukum Allah atau enggan mempelajarinya.

Allah Swt. berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

"Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar: 9)

Kebodohan menjadi sebab seseorang mudah melakukan dosa, terjerumus kepada syubhat, bahkan merasa dirinya sudah benar padahal berada di jalan yang keliru.

Ketertipuan Adalah Keniscayaan bagi Seluruh Mukallaf

Inilah inti pembahasan para ulama tasawuf. Tidak ada seorang mukallaf yang bebas dari ancaman al-ghurūr (الغرور), yaitu tertipu oleh hawa nafsu, dunia, setan, atau bahkan oleh amal dan ilmunya sendiri.

Allah Swt. berfirman:

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِالله الْغَرُورُ

"Janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian, dan jangan pula penipu (setan) memperdayakan kalian terhadap Allah." (QS. Luqmān: 33)

Allah juga berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Āli 'Imrān: 185)

Karena itu, setiap golongan memiliki bentuk ketertipuannya masing-masing.

Orang kafir tertipu karena menganggap dunia adalah tujuan akhir.

Orang mukmin yang bermaksiat tertipu karena merasa, "Allah Maha Pengampun," tetapi tidak pernah bertaubat.

Orang yang taat bisa tertipu oleh banyaknya ibadah sehingga muncul rasa ujub, riya', dan merasa lebih suci daripada orang lain.

Bahkan orang alim dapat tertipu oleh ilmunya. Ia mengajar, berdakwah, menulis kitab, namun semua itu dilakukan demi kedudukan, pujian, atau popularitas.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ... رَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ... فَقَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ لِيُقَالَ عَالِمٌ

"...Di antara manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah seorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya... lalu Allah berfirman: 'Engkau dusta. Engkau belajar agar disebut sebagai orang alim.' " (HR. Muslim)

Penutup

Dari uraian ini tampak bahwa perjalanan manusia menuju Allah memiliki tingkatan yang jelas: makhluk, mukallaf, mukmin atau kafir, kemudian mukmin yang taat atau bermaksiat, lalu alim atau jahil. Namun, pada setiap tingkatan itu terdapat satu bahaya yang sama, yaitu al-ghurūr (ketertipuan).

Oleh karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya merasa telah beriman, rajin beribadah, atau memiliki ilmu. Yang paling penting adalah terus memperbaiki niat, memperbanyak muhasabah, memohon keikhlasan, serta meminta perlindungan kepada Allah agar tidak tertipu oleh dunia, hawa nafsu, setan, maupun oleh amalnya sendiri.

Semoga Allah Swt. menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang berilmu, mengamalkan ilmunya dengan ikhlas, istiqamah dalam ketaatan, serta diselamatkan dari segala bentuk ghurur hingga menghadap-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Āmīn.

Kajian Kitab AlKasyfu Wattabyin Karya Al Imam Al Ghozaly