Tertipu oleh Dunia: Ketika Akal yang Sehat Mengantarkan kepada Akhirat
-
Di antara penyakit hati yang paling halus sekaligus paling berbahaya adalah ghurūr, yaitu tertipu oleh kehidupan dunia. Penyakit ini tidak hanya menimpa orang yang bodoh, tetapi juga dapat menimpa orang yang berilmu apabila ilmunya tidak melahirkan keyakinan dan amal. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa banyak manusia mengetahui adanya akhirat, namun dalam praktik kehidupannya mereka justru lebih mengutamakan dunia. Mengapa hal itu terjadi? Karena mereka tertipu oleh cara berpikir yang keliru.
Dunia Tunai, Akhirat Tempo
Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia adalah sesuatu yang dapat dinikmati sekarang. Harta bisa dipegang, makanan bisa dimakan, rumah bisa ditempati, dan jabatan bisa dirasakan kehormatannya. Adapun akhirat baru akan diperoleh setelah kematian.
Karena itulah sebagian orang berkata, "Dunia itu tunai, sedangkan akhirat itu tempo."
Imam Al-Ghazali mengakui bahwa pernyataan tersebut benar. Namun yang salah adalah ketika seseorang menyimpulkan bahwa setiap yang tunai pasti lebih baik daripada yang datang kemudian.
Padahal akal yang sehat tidak pernah mengambil kesimpulan seperti itu.
Bayangkan seseorang diberi dua pilihan. Pilihan pertama menerima satu juta rupiah hari ini. Pilihan kedua menerima seratus juta rupiah setahun lagi. Tidak ada orang yang berakal rela kehilangan keuntungan yang jauh lebih besar hanya karena ingin memperoleh sesuatu lebih cepat.
Begitu pula perbandingan dunia dan akhirat. Dunia hanya beberapa puluh tahun, sedangkan akhirat tidak berkesudahan. Dunia bercampur dengan rasa sakit, kecewa, dan kematian, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal.
Allah Swt. berfirman:
وَمَا عِندَ الله خَيْرٌ وَأَبْقَى
"Apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-Qashash: 60)
Dan firman-Nya:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
"Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-A'la: 17)
Kesalahan Berpikir yang Menipu
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa letak kesalahan manusia bukan karena mereka mengetahui dunia dapat dinikmati sekarang, tetapi karena mereka menganggap dunia lebih berharga hanya sebab dapat dirasakan lebih dahulu.
Cara berpikir seperti ini sangat berbahaya. Dalam urusan bisnis manusia rela menunggu keuntungan yang lebih besar. Dalam pendidikan seseorang rela belajar bertahun-tahun demi masa depan yang lebih baik. Namun mengapa dalam urusan akhirat justru banyak orang tidak mau bersabar demi memperoleh kenikmatan yang kekal?
Inilah tipu daya dunia. Dunia membuat manusia lebih memilih kesenangan kecil yang segera diperoleh daripada kebahagiaan besar yang menanti di akhirat.
Benarkah Akhirat Masih Diragukan?
Sebagian orang berkata, "Kenikmatan dunia sudah pasti, sedangkan kenikmatan akhirat belum tentu."
Imam Al-Ghazali menyebut ucapan ini sebagai ucapan yang batil.
Bagi seorang mukmin, akhirat bukan dugaan, melainkan kepastian. Allah memuji orang-orang yang beriman dengan firman-Nya:
وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
"Dan mereka benar-benar yakin akan adanya kehidupan akhirat." (QS. Al-Baqarah: 4)
Orang beriman tidak menjadikan penglihatannya sebagai ukuran kebenaran. Banyak hal yang tidak terlihat, tetapi pasti ada, seperti akal, ruh, dan kasih sayang. Demikian pula surga dan neraka. Mata belum melihatnya, tetapi hati membenarkannya karena Allah dan Rasul-Nya telah mengabarkannya.
Iman Adalah Kepercayaan kepada Yang Maha Benar
Imam Al-Ghazali memberi perumpamaan yang sangat indah. Orang sakit meminum obat sesuai resep dokter, bukan karena ia mengetahui kandungan obat tersebut, tetapi karena ia percaya kepada keahlian dokter.
Demikian pula seorang mukmin mempercayai berita Rasulullah ﷺ. Jika dalam urusan kesehatan kita percaya kepada manusia, maka dalam urusan keselamatan akhirat tentu lebih pantas mempercayai Nabi Muhammad ﷺ, manusia yang paling jujur dan paling benar.
Allah Swt. berfirman:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
"Tidaklah dia berbicara menurut hawa nafsunya. Ucapannya tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan." (QS. An-Najm: 3–4)
Ilmu Para Nabi Bukan Sekadar Mendengar Berita
Imam Al-Ghazali kemudian menjelaskan bahwa jangan mengira Nabi Muhammad ﷺ mengetahui perkara gaib hanya karena mengikuti Malaikat Jibril.
Jibril hanyalah penyampai wahyu. Adapun Allah-lah yang membuka berbagai hakikat kepada Rasul-Nya.
Beliau melihat dengan cahaya hati apa yang tidak mampu dilihat oleh mata manusia biasa. Pengetahuan beliau tentang surga, neraka, malaikat, dan hari kiamat bukan hasil dugaan, melainkan hasil wahyu dan penyaksian yang Allah anugerahkan kepadanya.
Karena itulah keyakinan Nabi ﷺ terhadap akhirat begitu sempurna. Bagi beliau, kehidupan akhirat seakan-akan tampak sebagaimana jelasnya dunia yang disaksikan dengan mata.
Dunia Adalah Jalan, Bukan Tujuan
Kesalahan terbesar manusia adalah menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Padahal Allah menciptakan dunia sebagai jalan menuju akhirat.
Harta hanyalah amanah, jabatan hanyalah ujian, kesehatan hanyalah kesempatan, dan umur hanyalah modal untuk beribadah.
Ketika hati memahami hal ini, dunia tidak lagi menguasai jiwa. Dunia berada di tangan, sedangkan akhirat berada di hati.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa obat paling ampuh untuk menghilangkan tipu daya dunia adalah memperkuat iman dan menggunakan akal yang jernih. Iman membuat seseorang percaya kepada janji Allah, sedangkan akal yang sehat menyadarkan bahwa tidak mungkin kenikmatan yang sementara lebih layak dipilih daripada kenikmatan yang kekal.
Semoga Allah menjadikan hati kita selalu memandang dunia sebagai tempat singgah, bukan tempat tinggal. Semoga Allah memenuhi hati kita dengan keyakinan terhadap janji-Nya, sehingga kita mampu mendahulukan akhirat tanpa melalaikan kewajiban kita di dunia.
"Orang yang cerdas bukanlah orang yang paling pandai mengumpulkan dunia, tetapi orang yang mampu menggunakan dunia untuk memperoleh akhirat."
Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb.
Renungan dari kitab Al Kasyfu Wattabyin karya Imam Al-Ghazali
